Debit Air Baku Sungai Sangatta Turun, Produksi Perumdam TTB Berkurang 15 Persen

Jufriadi • Dipublikasikan Kamis, 17 September 2026 | 11:26 WIB
Kondisi sumber air dan infrastruktur pengambilan air baku di intake IPA CabangSangatta Selatan, Kutim. (IST)
Kondisi sumber air dan infrastruktur pengambilan air baku di intake IPA CabangSangatta Selatan, Kutim. (IST) 

 

KALTIMPOST.ID, SANGATTA – Musim kemarau mulai memengaruhi produksi air bersih Perumdam Tirta Tuah Benua (TTB) Kutai Timur (Kutim). Saat muka air Sungai Sangatta surut, debit air baku yang dapat diolah turun sekitar 15 persen.

Direktur Utama Perumdam TTB Kutim Suparjan mengatakan, kondisi sumber air baku secara umum masih aman. Namun, pasang surut Sungai Sangatta membuat produksi air mengalami perubahan.

“Secara umum, kondisi sumber air baku PDAM Sangatta masih aman. Namun, terdapat kondisi pasang surut Sungai Sangatta yang memengaruhi debit air baku. Pada saat air sungai surut, produksi air mengalami penurunan sekitar 15 persen,” kata Suparjan, Kamis (17/9).

Penurunan tersebut bersifat fluktuatif. Ketika permukaan Sungai Sangatta kembali naik, produksi air dapat kembali normal. Saat ini kapasitas produksi Perumdam TTB sekitar 450 liter per detik.

Baca Juga: Anggaran Pendidikan Kutim Menyusut, Disdikbud Kurangi Cakupan Sejumlah Program

Suparjan menyebut produksi sekitar 275 liter per detik masih dapat mendukung pelayanan kepada pelanggan. Karena itu, kondisi muka air Sungai Sangatta menjadi salah satu hal yang terus dipantau selama musim kemarau.

Menurut dia, salah satu kondisi yang menjadi perhatian ialah ketika sumber air baku terus menyusut hingga tidak tersedia air yang dapat diolah. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kemampuan Perumdam mempertahankan pelayanan secara normal.

“Penurunan muka air atau kondisi sungai yang semakin surut menjadi salah satu indikator yang terus kami pantau,” jelasnya.

Baca Juga: Diskes Balikpapan Instruksikan Faskes Siaga KLB Diare Saat Musim Kemarau  

Untuk mengantisipasi kemarau yang berlangsung lebih panjang, Perumdam TTB telah menyiapkan sejumlah langkah. Salah satunya menggunakan pompa ponton untuk mendukung pengambilan air baku apabila debit sungai terus menurun.

Selain Sungai Sangatta, Perumdam juga memiliki sumber air baku alternatif dari void eks tambang PT KPC. Sumber tersebut menjadi salah satu opsi yang dapat dimanfaatkan dalam kondisi tertentu.

Persoalan kebocoran jaringan perpipaan juga menjadi catatan dari musim kemarau sebelumnya. Selain itu, penyusutan dan penurunan muka air Sungai Sangatta masih menjadi titik rawan yang perlu diantisipasi tahun ini.

“Kondisi sumber air baku yang mengalami penyusutan atau surut masih menjadi salah satu titik rawan yang kami antisipasi pada musim kemarau tahun ini,” katanya.

Baca Juga: Samarinda Diselimuti Kabut Asap Pekat, Kadishub Ingatkan Bahaya Lalu Lintas Darat dan Sungai

Evaluasi terhadap kondisi sebelumnya juga terus dilakukan. Pemantauan terhadap kecenderungan penyusutan air baku menjadi dasar dalam menentukan langkah antisipasi agar pelayanan tetap berjalan.

“Evaluasi terus dilakukan, khususnya terhadap kondisi dan kecenderungan penyusutan air baku. Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah antisipasi dan menjaga kontinuitas pelayanan,” ujar Suparjan.

Di sisi lain, koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur terus dilakukan sesuai kebutuhan. Perumdam juga berkoordinasi terkait usulan jaringan perpipaan yang disampaikan masyarakat.

Perumdam turut membuka dukungan terhadap penanganan kebakaran hutan dan lahan. Kebutuhan air untuk BPBD dapat didukung sesuai kondisi dan kemampuan yang tersedia.

Suparjan mengatakan, kondisi paling serius terjadi apabila sumber air baku mengalami kekeringan hingga tidak lagi tersedia air untuk diolah. Pada tahap tersebut, pelayanan kepada pelanggan berpotensi tidak dapat dipertahankan secara normal. (*)

Editor : Sukri Sikki
Perumdam TTB Kutim kemarau air baku Suparjan Sangatta Selatan