Potensi Ikan Sangkulirang Kutim Masih Melimpah, Camat Ungkap Kenapa Nelayan Mulai Berkurang

Jufriadi • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 17:15 WIB
Camat Sangkulirang, Cipto Buntoro. Jufriadi/KP
Camat Sangkulirang, Cipto Buntoro. Jufriadi/KP

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Potensi perikanan di Kecamatan Sangkulirang, Kutai Timur (Kutim), masih dinilai besar. Namun, aktivitas nelayan di wilayah tersebut kini tidak lagi seperti era 1990-an. Sejumlah fasilitas penunjang usaha perikanan masih belum tersedia.

Camat Sangkulirang Cipto Buntoro menyebut, pada era 1990-an, wilayah tersebut sempat menjadi salah satu sentra perikanan. Saat itu, terdapat puluhan hingga ratusan kapal yang beroperasi menangkap ikan. Aktivitas tersebut dijalankan oleh sejumlah kelompok usaha nelayan.

Namun, kondisi itu perlahan berubah. Saat ini, aktivitas perikanan di Sangkulirang tidak lagi sebesar sebelumnya. Salah satu kendala utama adalah sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) untuk kebutuhan melaut. Hingga kini belum tersedia Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN).

“Kesulitannya nelayan itu yang pertama tentang BBM, tidak memiliki SPBN yang bisa mendukung untuk kegiatan pengisian BBM,” ujarnya. Selain BBM, ketersediaan cold storage juga menjadi persoalan.

Baca Juga: Disdikbud Samarinda Benahi SMP 24, Penanganan Banjir Bertahap dan Upayakan Revitalisasi 

Padahal, fasilitas ini dibutuhkan untuk menjaga hasil tangkapan selama proses penyimpanan dan distribusi. “Es batu yang dulu ada dua perusahaan yang memproduksi es batu itu sekarang enggak ada lagi,” katanya.

Kendala lainnya adalah fasilitas perbaikan kapal. Cipto menyebut, sebelumnya terdapat dua bengkel yang melayani perbaikan kapal di sekitar kawasan pesisir Sangkulirang. Namun, kedua usaha tersebut kini tidak lagi berjalan karena tidak ada generasi yang meneruskan.

Padahal, menurutnya, peluang pengembangan perikanan Sangkulirang masih terbuka. Terlebih, hasil perikanan dari kawasan tersebut memiliki akses pasar ke sejumlah daerah seperti Samarinda, Bontang dan wilayah sekitarnya.

Ia juga menyebut sebagian pelaku usaha perikanan yang kini beraktivitas di Biduk-Biduk, Berau, merupakan orang Sangkulirang. Perpindahan tersebut salah satunya dipengaruhi keterbatasan fasilitas pendukung usaha perikanan di Sangkulirang.

Baca Juga: Ekspor Batu Bara Kaltim ke Tiongkok Tumbuh 20,90 Persen

“Jadi seandainya pemerintah itu membangunkan SPBN dan produksi es batu, itu luar biasa. Sangkulirang masih memungkinkan,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan fasilitas dasar tersebut dapat kembali membuka aktivitas ekonomi perikanan di Sangkulirang. Terlebih, akses antardaerah juga semakin terbuka setelah beroperasinya Jembatan Nibung.

Jembatan tersebut disebut memangkas biaya penyeberangan yang sebelumnya harus dikeluarkan masyarakat. "Jadi Sangkulirabg itu kehilangan potensi untuk bisa dikembangkan yaitu, ikan. Padahal potensinya masih luar biasa," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
nelayan kutim SPBN Sangkulirang sangkulirang kutai timur Perikanan Kaltim