KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Kondisi udara di sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai terlihat membaik. Namun, secara kualitas udara di daerah berjuluk Tuah Bumi Untung Benua tersebut belum sepenuhnya sehat.
Hasil pengukuran Dinas Kesehatan melalui puskesmas menunjukkan kualitas udara masih berstatus buruk di sebagian besar wilayah. Dari 18 kecamatan yang ada, tercatat baru sekitar lima kecamatan yang kualitas udaranya masuk kategori baik.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setkab Kutim, Trisno, mengungkapkan kondisi udara sempat membaik pada awal pekan. Kendati demikian, tren pencemaran kabut asap kembali memburuk dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: Amankan Pasokan Air Bersih Sangatta, Intake Ponton Perumdam Kutim Beroperasi Akhir September
"Meski beberapa camat melaporkan secara visual asap sudah berkurang di lapangan, hasil pengukuran Dinas Kesehatan melalui puskesmas setempat justru menunjukkan data yang berbeda," ungkap Trisno kepada Kaltim Post, Jumat (25/9).
Trisno menegaskan, pemerintah daerah tetap mengacu pada data saintifik alat ukur, bukan sekadar perkiraan kasatmata. Pasalnya, zat pencemar udara berukuran mikro kerap tidak terdeteksi oleh pandangan mata biasa.
"Data yang kita gunakan adalah hasil riil dari alat ukur yang dioperasikan kawan-kawan di puskesmas. Karena memang tidak semua indikator kualitas udara bisa dinilai secara visual," tegasnya.
Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi cuaca dan kualitas udara diproyeksikan membaik dalam tiga hari ke depan. Meski begitu, setelah rentang waktu tersebut kondisi udara berpotensi kembali menurun.
Baca Juga: Pemkab Kutim Bawa Sengketa Lahan PT MKC ke Tiga Kementerian
Lantaran kualitas udara belum stabil, Surat Edaran (SE) Bupati Kutim terkait penanganan pencemaran udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih diberlakukan. Pemkab Kutim juga belum membuka kembali pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah.
Evaluasi kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) rencananya digelar pada hari Senin mendatang. Agenda evaluasi tersebut bakal melibatkan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim.
"Kalau hari Senin tren kualitas udara membaik, kebijakan PJJ tentu dievaluasi. Namun, kalau trennya memburuk, PJJ akan tetap dilanjutkan sampai cuaca benar-benar membaik," tutur Trisno.
Di samping penanganan medis dan dunia pendidikan, Pemkab Kutim mendesak sektor swasta aktif membantu penanggulangan karhutla. Pihak manajemen perusahaan diminta intens berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan guna memadamkan kobaran api di wilayah konsesi maupun sekitarnya.
"Ini bencana tingkat kabupaten yang harus menjadi tanggung jawab kita bersama, termasuk keterlibatan aktif seluruh perusahaan yang beroperasi di Kutai Timur," pungkas Trisno. (*)
Editor : Duito Susanto