Orangutan Mulai Terdampak Kekeringan, BKSDA Kaltim Siapkan Sumber Air Buatan

Jufriadi • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 12:15 WIB
LINGKUNGAN: Kubangan air buatan disiapkan BKSDA Kaltim di jalur perlintasan satwa sebagai sumber air alternatif selama kemarau panjang, Bengalon, Kutai Timur. (IST)
LINGKUNGAN: Kubangan air buatan disiapkan BKSDA Kaltim di jalur perlintasan satwa sebagai sumber air alternatif selama kemarau panjang, Bengalon, Kutai Timur. (IST)  

 

KALTIMPOST.ID, SANGATTA - Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Timur mulai berdampak pada ketersediaan air bagi satwa liar. Kondisi tersebut turut menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya penyelamatan orangutan dari habitatnya.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur kini menyiapkan kubangan air buatan di sejumlah jalur perlintasan satwa di Bengalon, Kutai Timur (Kutim). Ini dilakukan sebagai antisipasi jika sumber air alami semakin berkurang selama kemarau panjang.

Baca Juga: Pemkab Kubar dan Kantah Gebrak Layanan Pertanahan lewat SIPINTER PBB-P2

Kepala BKSDA Kaltim Ari Wibawanto mengatakan, penyediaan air buatan diperlukan karena kebutuhan hidrasi satwa tidak hanya bergantung pada sumber air terbuka. Dalam kondisi normal, satwa juga mendapatkan asupan air dari vegetasi yang menjadi pakannya.

Namun, kondisi tersebut berbeda ketika kemarau berlangsung lebih panjang dan ekstrem. Berkurangnya sumber air dan kandungan air pada vegetasi dapat membuat satwa mengalami dehidrasi.

“Kalau kemarau normal, kebutuhan air mungkin masih bisa terpenuhi, tidak hanya dari minum langsung ke sumber air, tetapi juga dari makanan. Pucuk-pucuk daun masih memiliki kandungan air,” kata Ari dalam keterangannya, Rabu (30/9).

Menurut dia, kondisi ekstrem membuat sumber air alami maupun vegetasi pakan tidak lagi mampu menyediakan kebutuhan air yang cukup. Karena itu, BKSDA mulai menyiapkan sumber air alternatif di kawasan yang menjadi lintasan satwa.

“Posisi kubangan juga harus diatur, tidak terbuka, tetapi tersembunyi agar tidak menjadi tempat yang justru memudahkan perburuan,” ujarnya.

Baca Juga: Lahan Dua Hektare Hangus, Aksi Pria di Samarinda Berujung Bui

Untuk tahap awal, empat kubangan air telah dibuat. BKSDA masih memantau pemanfaatannya untuk melihat seberapa efektif fasilitas tersebut digunakan satwa.

Ari mengatakan, lokasi kubangan ditentukan berdasarkan temuan dan jalur perlintasan satwa. Pemantauan dilakukan untuk memastikan fasilitas tersebut benar-benar dimanfaatkan sebelum jumlahnya diperluas.

“Untuk sementara kami membuat empat dan kami pantau apakah ini berhasil guna atau tidak,” jelasnya.

BKSDA juga mulai melibatkan pemegang konsesi yang memiliki kawasan dengan nilai konservasi tinggi. Surat edaran telah dikirim kepada sejumlah entitas yang mengelola kawasan, termasuk perusahaan pertambangan, perkebunan kelapa sawit dan kehutanan.

Kebutuhan terhadap sumber air tambahan itu juga terlihat dari temuan di lapangan. Conservation Action Network (CAN) mencatat sedikitnya 13 individu orangutan telah diselamatkan sejak Juli hingga saat ini.

Founder CAN Paulinus Kristanto mengatakan, orangutan yang diselamatkan berasal dari sejumlah kondisi. Di antaranya individu yang mengalami malnutrisi berat dan harus menjalani perawatan di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam, termasuk pasangan induk dan anak.

Sementara beberapa individu lainnya langsung menjalani translokasi. “Sejak Juli sampai saat ini ada 13 orangutan yang diselamatkan. Kemudian ada ibu dan anak yang ada di Pusat Rehabilitasi Satwa Long Sam. Beberapa satwa lainnya langsung ditranslokasi,” kata Paulinus.

Menurut dia, sebagian orangutan yang ditemukan dalam kondisi terdesak dari habitatnya mengalami dehidrasi. Minimnya sumber air menjadi persoalan ketika satwa harus bergerak melewati kawasan hutan yang terfragmentasi.

“Dengan kondisi kemarau panjang dan hutan yang terfragmentasi, sumber air sangat kurang. Dari pengalaman kami, beberapa orangutan dan satwa yang ditemukan mengalami dehidrasi karena tidak ada sumber air,” ujarnya.

Dia menambahkan, kondisi vegetasi juga ikut memengaruhi. Pada musim kemarau ekstrem, pohon yang menjadi sumber pakan tidak selalu memiliki kandungan air yang cukup.

“Dengan adanya sumur atau kubangan ini, akan sangat membantu satwa untuk terus berpindah dan bermigrasi selama masa kemarau panjang,” pungkasnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
orangutan kemarau BKSDA Kaltim kutim