KALTIMPOST.ID, Bulan Muharam adalah bulan yang penuh dengan kemuliaan serta bulan yang dianjurkan untuk memperbanyak amalan puasa sunah.
Nama “Muharam” sendiri berarti “dilarang” atau “diharamkan”, mencerminkan bahwa bulan ini suci, dan berbagai bentuk peperangan atau tindakan kekerasan dilarang dalam bulan ini.
Para ulama berpendapat, bahwa Muharam adalah bulan suci yang terbaik. Ibnu Rajab berkata: Para ulama berbeda pendapat tentang bulan suci mana yang lebih baik?
Al-Hassan dan yang lainnya berkata: Yang terbaik dari bulan-bulan haram adalah bulan Allah, yaitu Muharam, dan pendapat ini yang dikuatkan oleh para ulama mutaakhirin (para ulama yang hidup di zaman modern atau sekarang ini).
Namun, Ibnu Rajab menambahkan, bahwa maksud bulan Muharam adalah bulan terbaik tentunya setelah Ramadan. Salah satu dari empat bulan yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dan umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa Asyura jatuh pada 10 Muharam ini.
Allah subhanahu wa ta’ala memuliakan bulan Muharam dari bulan-bulan lainnya, bahkan Muharam disebut sebagai bulan Allah. Allah subhanahu wa ta’ala melekatkan nama-Nya pada bulan Muharam sebagai bentuk kemuliaan bulan tersebut.
Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Bakrah radiyallahu ‘anhuma, Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, menjelaskan:
“Sesungguhnya, zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan di antaranya terdapat empat bulan yang dihormati: tiga bulan berturut-turut; Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram serta satu bulan yang terpisah, yaitu Rajab Mudhar, yang terdapat di antara bulan Jumada Akhiroh dan Sya’ban.” [HR Bukhari (3197) dan Muslim(1679)]
Baca Juga: Pahami Lebih Dalam tentang Kelebihan dan Kekurangan Pemanis Buatan yang Populer di Masyarakat
Seperti yang disebutkan dalam Al-Qur'an surah at-Taubah:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Artinya: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, 326) (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauhulmahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram.
Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa." (QS At-Taubah [9]: 36)
Di bulan mulia ini, hendaklah berhati-hati untuk tidak berbuat dosa, baik menzalimi diri sendiri maupun menzalimi orang lain.
Karena kezaliman itu kegelapan di hari kiamat. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda: “Tahukah kalian dengan kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman itu merupakan kegelapan-kegelapan pada hari kiamat”. (HR Muslim)
Pada 10 Muharam ini, disunahkan untuk berpuasa, puasa Asyura hukumnya tidak wajib tetapi sunah muakadah (sangat dianjurkan). Karena puasa Asyura merupakan puasa sunah yang dianjurkan dan paling utama setelah puasa Ramadan yang dapat dilakukan pada bulan Muharam.
Puasa Asyura yang dianjurkan, dikerjakan pada 10 Muharam. Tak hanya itu, umat Islam juga disunahkan menjalani puasa sehari sebelumnya yang disebut puasa Tasua pada 9 Muharam.
Puasa Asyura memiliki keutamaan yang luar biasa. Di antara keutamaan puasa Asyura, yaitu dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu.
Dari Abu Qotadah Al Anshori, bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda,
”Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR Muslim no 1162).
Sebagaimana sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, "Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulannya Allah, Muharam" (HR Muslim).
Maksudnya, menghapus dosa-dosa kecil yang ringan, bukan yang besar, karena dosa-dosa yang besar tidak diampuni oleh Allah melainkan hanya tobat yang sebenar-benarnya kepada Allah.
Barang siapa yang melakukan kebaikan pada bulan-bulan tersebut, pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dan sebaliknya, perilaku maksiat atau yang dilarang pada bulan-bulan itu, siksanya juga dilipatgandakan.
Sejumlah peristiwa yang terjadi pada hari Asyura tentu sudah berlangsung sangat lama. Seperti diselamatkannya Nabi Musa AS dan pengikutnya dari Firaun, pertobatan Nabi Yunus AS, dan penyelamatan Nabi Ibrahim AS dari api.
Karena hal itu adalah sejarah yang bisa kita ambil pelajaran atau hikmah di balik peristiwa tersebut. Menjadikan bulan Muharam sebagai momen untuk melakukan refleksi diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai amalan, seperti perbanyak istigfar dan doa, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan puasa sunah.
Diharapkan umat muslim dapat meraih ketakwaan dan kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun di akhirat.(*)
Editor : Dwi Puspitarini