KALTIMPOST.ID, CHONGQING - Tiga hari di Beijing, membuat rombongan Kaltim Post Group bisa beradaptasi dengan cuaca dingin di Tiongkok. Sehingga lebih mudah menikmati tur ketika berada di Chongqing. Seperti ketika menelusuri objek wisata tertua di Chongqing, Danzishi Old Street.
Tuntas sudah tur tiga hari mengunjungi objek wisata di Beijing. Selanjutnya, rombongan Kaltim Post berkunjung ke Chongqing, pada 14 Februari 2025. bertolak dari Ramada Beijing North Hotel sekira pukul 04.30 waktu Beijing, perjalanan hanya butuh waktu 30 menit menuju Beijing Daxing International Airport. Rombongan Kaltim Post Group (KPG) selanjutnya akan menggunakan maskapai penerbangan Air China menuju Chongqing pada pukul 08.00 waktu Beijing.
Setelah menyelesaikan segala hal yang berkaitan dengan penerbangan, rombongan menunggu di depan Gate C51 selama sekira 1,5 jam. Perjalanan menuju Chongqing membutuhkan waktu sekira 2,5 jam. Cuaca yang kurang bersahabat saat penerbangan membuat pesawat beberapa kali mengalami turbulensi hingga akhirnya mendarat pukul 10.44 waktu Chongqing.
Tak ada proses keimigriasian setibanya di Chongqing Jiangbei Internasional Airport. Karena hanya penerbangan domestik dari Beijing menuju Chongqing. Butuh waktu 1 jam, untuk menunggu barang yang berada di bagasi. Hingga akhirnya rombongan dijemput dan keluar bandara pada pukul 11.58 waktu Chongqing.
Cuaca di Chongqing berbeda dengan Beijing. Saat tiba di Chongqing suhunya lembab dan dingin. Sementara di Beijing, suhunya adalah dingin dan kering. Dan pada tur di Chongqing ini, rombongan Kaltim Post Group dipandu oleh Pu Xiao Hong.
“Ini salah satu kota besar di Tiongkok. Ada empat kota besar di Tiongkok. Yang pertama terkenal adalah Beijing. Itu ibu kota kami. Yang kedua juga terkenal, Shanghai. Yang ketiga tidak terlalu terkenal, Tianjin. Kota ini sangat dekat dengan Beijing. Tianjin artinya seperti rusa. Dan keempat adalah Chongqing,” kata Pu Xiao Hong.
Siang itu, Chongqing juga dilanda hujan gerimis. Kabut hujan menutupi pemandangan indah dari bangunan-bangunan megah di Chongqing. Tak ada waktu istirahat selama tur di Chongqing. Setelah turun pesawat dilanjutkan dengan makan siang, rombongan langsung melakukan orientasi.
Mengunjungi Danzishi Old Street yang berada di Distrik Nan’an Chongqing, tepi selatan Sungai Yangtze. Di Chongqing juga tidak ada ada objek wisata peninggalan bersejarah seperti di Beijing. Namun ada satu jalan bersejarah di Chongqing yang biasa dikunjungi wisatawan, yakni Danzishi Old Street.
Pu Xiao Hong menerangkan, Danzishi Old Street dibuka pada tahun 1891. Sebagai kawasan pelabuhan penting di sepanjang Sungai Yangtze. Dan seiring berjalannya waktu, kawasan tersebut banyak mengalami perubahan. Namun pemerintah setempat tetap mempertahankan arsitektur bangunan tua di kawasan tersebut.
Seperti toko, restoran, kedai teh, dan kedai makanan ringan, yang menawarkan berbagai makanan dan souvenir lokal. “Bangunan di sini, bergaya lama. Tetapi sudah direnovasi menjadi bangunan baru, hanya bergaya lama. Ada banyak rumah tua di sini, tetapi sekarang kami membangunnya kembali. Karena semua rumah terbuat dari kayu,” ujarnya
Dia pun mengajak rombongan naik ke lantai atas kawasan Danzishi Old Street. Di kawasan terbuka ini disediakan eskalator bagi pengunjung. Pada lantai pertama tampak kawasan mall dan kafe. Naik ke lantai dua, ada beberapa toko fashion dan elektronik. Termasuk dengan museum lilin Madame Tussauds. Bangunannya bercorak bata.
“Di sini ada Madame Tussauds. Dan dari sini ke bawah, sebenarnya, ini adalah kawasan yang dibangun kembali. Karena sudah menjadi reruntuhan,” jelasnya.
Rombongan pun diajak ke bagian atas bangunan Danzishi Old Street yang memperlihatkan pemandangan Sungai Yangtze. Akan tetapi karena cuaca hujan gerimis, pemandangan gedung-gedung yang mengelilingi sungai tersebut terhalang kabut.
“Di sini, adalah titik untuk mengambil foto. Dan memperkenalkan pemandangan Chongqing. Saya rasa ini seperti lantai 5. Tapi tidak, sebenarnya masih lantai pertama,” ungkapnya. Melihat pemandangan dari landmark riverside park, Sungai Yangtze tampak sepi dari kapal wisata sore itu. Pada papan informasi menerangkan bahwa setelah direstorasi, Danzishi Old Street dibagi menjadi "pelabuhan hulu" dan "sungai hilir" oleh Jembatan Qingyun.
Terletak di titik tertinggi hilir, Viewing Plariurin Changjiahui, Danzishi Old Street juga dikenal sebagai "Mata Chongqing" dan "Atap Terindah di Chongqing". Di mana pengunjung yang berjalan menaiki tangga ke atas, akhirnya disuguhkan dengan dengan pemandangan seluruh kota yang indah. Di kedua sisi kedua sungai. Sejauh mata memandang, terdapat "Landmark Chongqing” yang terkenal di dunia. Di mana ada pertemuan Sungai Yangtze dan Sungai Jialing yang megah, dan Jembatan Chaotianmen yang melintasi sungai. (bersambung/)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo