Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Naskah Khutbah Jumat 16 Mei 2025: Konsistensi Ucapan dan Tindakan dalam Dakwah di Era Digital

Almasrifah • Jumat, 16 Mei 2025 | 09:51 WIB

Foto Ilustrasi. Naskah Khutbah Jumat 16 Mei 2025.
Foto Ilustrasi. Naskah Khutbah Jumat 16 Mei 2025.
KALTIMPOST.ID, Naskah Khutbah Jumat akan disertakan dalam artikel ini mengenai Konsistensi Ucapan dan Tindakan dalam Dakwah di Era Digital.

Di era digital yang serbacepat dan transparan, dakwah Islam menghadapi tantangan baru sekaligus peluang besar. Media sosial, kanal video, hingga platform percakapan daring menjadi mimbar-mimbar baru tempat pesan agama disampaikan.

Namun di balik kemudahan ini, muncul tuntutan moral yang lebih tinggi, yaitu konsistensi antara ucapan dan tindakan para dai maupun umat Islam secara umum.

Ketika satu kata bisa viral dalam hitungan detik, maka satu ketidaksesuaian bisa menjadi fitnah yang besar.

Berikut ini adalah contoh naskah khutbah Jumat yang mengangkat tema tersebut yang dilansir dari laman NU Online.

Naskah Khutbah Jumat 16 Mei 2025:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ دَعَانَا لِلصِّدْقِ فِى الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ، وَجَعَلَ الْإِيْمَانَ لَنَا قَيِّدًا يَمْنَعُنَا مِنَ الزُّلَلِ، وَسَبِيْلًا لِلنَّجَاةِ مِنَ الْخُذْلَانِ والْخَلَلِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ الكَبْيْرِ المُتَعَالِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا َرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى سَبِيْلِ ذِيْ الْجَلَالِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، اَمَّا بَعْدُ

 فَيَا اَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَaa

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah

Segala puji hanya milik Allah swt, Dzat yang telah memerintahkan kepada kita semua untuk selalu berkata benar dan mengajak orang lain menuju kebaikan. Shalawat dan salam, mari kita haturkan untuk baginda Nabi Muhammad saw, yang telah berjuang menegakkan keadilan di seluruh penjuru alam. Tidak lupa kepada para sahabat, kerabat, tabiin, dan para ulama yang senantiasa meneruskan dakwah beliau, semoga Allah memberikan pahala yang melimpah untuk mereka.

Khatib berpesan bagi diri sendiri dan jamaah, mari tingkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan sebenar-benarnya ketakwaan. Jangan sampai kita meninggal dunia, kecuali dalam keadaan muslim. Sebagaimana nasihat Allah dalam Al-Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 102:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”  

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah

Hari ini, kita hidup di masa yang diliputi oleh serba kemudahaan. Ragam informasi bisa kita dapatkan, hanya melalui ponsel genggam saja. Bahkan semua orang mempunyai akses yang sama untuk menjadi penyedia konten untuk ditampilkan di media.

Apa yang tengah ada di hadapan kita hari ini, bisa menjadi kesempatan untuk berkontribusi dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman yang sejuk, melalui konten dakwah yang kita ciptakan.  Dengan demikian, teknologi akan sangat berguna sebagai wadah untuk tolong menolong dalam kebaikan, saling menasihati dan memberikan motivasi satu sama lain. Serta dapat membendung konten negatif yang disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.   

Sebagai peringatan kita semua, bahwa dalam menjalankan aktivitas baik dengan berdakwah ini, kita juga perlu mengamalkan apa yang telah kita sampaikan. Sehingga manfaatnya akan menjadi berlipat ganda. Utamanya, untuk diri sendiri dan orang lain. Jangan sampai, kita hanya pandai berucap namun tidak ikut serta mengamalkan.  

Karena yang demikian, sangat tidak disukai oleh Allah swt. Bahkan yang paling parah, dapat mengundang kemurkaan-Nya, Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an surat A-Shaf ayat 2-3: 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”  

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah

Syekh Muhammad Ali As-Shabuni dalam kitab Shafwatut Tafasir, jilid III, halaman 351, menjelaskan bahwa pertanyaan yang ada dalam surat As-Shaf ayat 2, “Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” berlaku sebagai kecaman bagi orang-orang beriman.  

Jadi, Ali As-Shabuni merincikan, bahwa dalam ayat tersebut, Allah swt seakan bertanya, “Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya, mengapa kalian berkata dengan lisan kalian, tentang hal yang tidak kalian kerjakan? Dengan alasan apa kalian mengatakan kebaikan, namun justru kalian tidak mengerjakannya?”  

Apalagi ditegaskan dalam ayat selanjutnya, yakni ayat 3, bahwa betapa besar kemurkaan Allah swt yang ditimbulkan oleh sikap pandai berbicara namun tidak ikut mengamalkan apa yang telah disampaikan.  

Selain itu, Syekh Ali As-Shabuni juga menyampaikan bahwa perbuatan yang dapat mengundang kemarahan Allah juga berlaku ketika seseorang menyuruh saudaranya berbuat baik, namun dirinya sendiri tidak mengerjakannya dan melarang orang lain berbuat buruk, tetapi tidak melarang dirinya sendiri.     Salam ayat Al-Qur’an yang lain, Allah swt menyebutkan: 

اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ

Artinya: “Mengapa kamu menyuruh orang lain untuk (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri..” (QS Al-Baqarah: 44).  

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah

Ternyata perilaku yang tidak sejalan antara ucapan dan tindakan ini adalah sikap yang sangat membahayakan. Disebutkan, bahwasanya siapa saja yang memiliki karakter tersebut, kelak pada hari kiamat akan didatangkan dalam kondisi yang mengenaskan.  

Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah saw melalui haditsnya, diriwayatkan oleh Imam Muslim, bersumber dari Usmah bin Haritsah: 

 عَنْ أَبِيْ زَيْدٍ أُسَامَةَ بْنِ حَارِثَةِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمَا، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُوْرُ بِهَا كَمَا يَدُوْرُ الحِمَارُ فِي الرَّحَى، فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ، فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ، مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُ تَأْمُرُ بِالمَعْرُوْفِ وَتَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ؟ فَيقُولُ: بَلَى، كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيْهِ، وأَنْهَى عَنِ المُنْكَرِ وَآتِيْهِ  

Artinya: "Dari Abu Zaid, Usamah bin Haritsah ra, ia berkata: 'Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: 'Akan didatangkan pada hari kiamat, seorang laki-laki yang ditempatkan dalam neraka. Terburai usus perutnya dan dia berkeliling seperti keledai yang memutari penggilingan.  

Penduduk neraka berkumpul kepadanya, seraya mengatakan: 'Wahai Fulan, apa yang sedang terjadi kepadamu? Bukankah kamu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran?' Laki-laki itu menjawab: 'Tentu. Dahulu aku mengajak kepada kebaikan, namun aku tidak mengerjakannya. Dan aku juga melarang kepada kemungkaran, tapi aku pun yang melakukannya'.” (HR Muslim).  

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah

Berdakwah untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah tindakan yang sangat terpuji. Apalagi dalam era yang diliputi berbagai kemudahan yang sama-sama kita saksikan hari ini.   

Kita bebas berkreasi dengan beragam konten: mulai dari tulisan, visual, audio dan bahkan ketiganya dapat digabungkan menjadi karya yang menarik. Namun yang paling penting dari dakwah ialah bagaimana perbuatan tersebut kita niatkan untuk mengingatkan diri sendiri.  

Jangan sampai kita hanya pandai dalam beretorika dan berkreasi untuk menasihati orang lain, tapi lupa akan kemashlahatan diri sendiri. Inkonsistensi antara ucapan dan tindakan dapat menimbulkan kemarahan Allah Swt dan bisa membahayakan kita di hari kiamat.  

Begitu juga dalam dunia nyata. Selain kita harus pandai mengingatkan keluarga, kerabat dan masyarakat secara umum akan mengerjakan kebaikan dan menjauhkan diri dari keburukan, maka kita pun harus bisa mengamalkan apa yang kita sampaikan.  

Karena itu, mari kita jalankan dakwah Islam yang sejuk dan berdampak untuk diri sendiri dan orang lain. Dengan berupaya untuk menjaga konsistensi antara ucapan dan tindakan kita.  

 بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Demikian salah satu contoh khutbah Jumat hari ini, semoga pesan yang disampaikan dapat memperkuat keimanan, memperbaiki akhlak, dan menumbuhkan semangat untuk terus berbuat kebaikan di tengah masyarakat. (*)

Editor : Almasrifah
#Naskah Khutbah Jumat #dakwah Islam #Naskah Khutbah Jumat 16 Mei 2025 #nu online #Dakwah di Era Digital #Contoh Naskah Khutbah Jumat