KALTIMPOST.ID, Naik 500 riyal dari tahun lalu, santunan dari wakaf Baitul Asyi kembali menyentuh hati para jemaah Aceh yang tengah berhaji di Tanah Suci.
Ada yang membelikan oleh-oleh, ada yang menyisihkan untuk sedekah. Tapi bagi ribuan jemaah haji asal Aceh, uang saku sebesar 2.000 riyal Arab Saudi atau sekitar Rp 8,7 juta, bukan hanya bantuan finansial, tapi juga simbol kasih sayang dari masa lalu yang masih hidup hingga kini.
Santunan ini berasal dari lembaga wakaf legendaris Baitul Asyi, yang setiap tahunnya memberi bantuan kepada jemaah haji Aceh di Makkah. Tahun 2025 ini, sebanyak 4.758 jemaah dari Embarkasi Aceh kembali menerima manfaatnya.
“Tahun lalu 1.500 riyal, alhamdulillah tahun ini naik jadi 2.000 riyal,” ujar Saifullah M. Yunus, petugas kloter sekaligus panitia pembagian, dikutip dari laman Kemenag RI.
Tak banyak yang tahu bahwa berkah ini berakar dari niat mulia seorang dermawan Aceh dua abad silam.
Dialah Habib Bugak Al-Asyi, yang sekitar tahun 1222 H membeli tanah di kawasan Qusyasyiah, Makkah. Ia kemudian mewakafkannya untuk warga Aceh yang berhaji atau menuntut ilmu.
Seiring perluasan Masjidil Haram, tanah wakaf ini terkena dampak proyek besar. Namun pemerintah Arab Saudi memberikan ganti rugi dalam bentuk uang dan aset, yang hingga kini dikelola secara produktif melalui hotel, tanah, dan perumahan. Hasilnya? Santunan rutin yang terus mengalir dari generasi ke generasi.
Bagi Sapri Samsudin, jemaah asal Kloter BTJ 04, bantuan ini adalah bentuk perhatian yang sangat menyentuh hati.
"Kami sangat berterima kasih atas kemurahan hati Syaikh yang telah berbagi kepada kami, jemaah dari negeri yang jauh," katanya haru.
Al Rayyan, jemaah lainnya, bahkan menganggap uang itu sebagai rezeki yang harus dibagikan kembali.
“Ini rezeki yang akan kami sedekahkan kepada sanak saudara di Aceh. Semoga jadi amal jariyah,” ungkapnya.
Tak sedikit pula jemaah yang memanfaatkan dana ini untuk keperluan ibadah. Syahrul dan istrinya, Enva, misalnya, sudah merencanakan untuk membayar dam dan berkurban.
“Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga Syaikh. Semoga pahala wakaf ini terus mengalir hingga hari kiamat,” tutur Syahrul dengan mata berkaca. ***
Editor : Dwi Puspitarini