Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Kamar Selalu Gelap, Hidup Tanpa Tujuan: Fenomena Ini Ternyata Viral di Kalangan Gen Z

Dwi Puspitarini • Rabu, 11 Juni 2025 | 08:21 WIB

 

Ilustrasi seorang wanita yang rebahan, scrolling media sosial.
Ilustrasi seorang wanita yang rebahan, scrolling media sosial.

 

KALTIMPOST.ID, Bayangkan sebuah kamar yang selalu gelap, tirai tertutup rapat, dan penghuninya nyaris tak pernah keluar.

Di dalamnya, seorang anak muda menghabiskan hari-harinya hanya dengan rebahan, scrolling media sosial, bermain game, dan memesan makanan online.

Fenomena ini bukan sekadar kemalasan, melainkan sebuah gaya hidup baru yang kini viral di kalangan Gen Z, dikenal sebagai “manusia tikus”.

Istilah “manusia tikus” mendadak jadi perbincangan hangat di media sosial, terutama setelah banyak video dan vlog yang memperlihatkan rutinitas pasif ini mendapat ratusan ribu likes dan komentar.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di satu negara, melainkan telah menjadi tren global, terutama di Tiongkok, dan mulai merambah ke berbagai belahan dunia.

Banyak orang bertanya-tanya, apa sebenarnya yang mendorong anak muda memilih hidup seperti ini?

Di balik gaya hidup yang tampak santai dan anti-sosial ini, tersimpan cerita tentang tekanan hidup, burnout, dan perlawanan diam-diam terhadap budaya kerja keras yang dianggap tak lagi manusiawi.

Fenomena manusia tikus bukan sekadar tren, tapi juga cerminan kegelisahan generasi muda yang merasa lelah, kecewa, dan kehilangan harapan pada sistem yang ada.

 Baca Juga: Bukan Cuma Malas, Ini Alasan Kenapa Banyak Generasi Paling Online Justru Memilih Menyendiri

Fenomena Manusia Tikus, Asal-Usul dan Viral di Media Sosial

Mengutip dari Sukabumiupdate, fenomena “manusia tikus” pertama kali viral di Tiongkok setelah seorang perempuan muda dengan akun @jiawensishi di media sosial membagikan rutinitas harian super pasif: bangun siang, tidur lagi, makan hanya saat dibangunkan orang tua, dan hampir sepanjang hari hanya bermain ponsel. 

Video tersebut langsung mendapat lebih dari 400.000 likes dan disebut sebagai “vlog paling relevan yang pernah ada” oleh para penontonnya.

Gaya hidup ini sangat kontras dengan generasi sebelumnya yang dikenal rajin, bangun pagi, dan menjalani hari dengan penuh target.

Para manusia tikus justru memilih hidup lamban, minim interaksi sosial, dan tanpa tujuan besar.

Mereka lebih suka berdiam diri di kamar, menunda pekerjaan, bahkan makan pun hanya sekali sehari.

 Baca Juga: Fenomena Generasi Strawberry: Salah Siapa? Orang Tua, Sekolah, atau Lingkungan?

Mengapa Gen Z Memilih Jadi Manusia Tikus?

Menurut Advita Patel, seorang pelatih kepercayaan diri dan karier yang dikutip dari Fortune, fenomena manusia tikus bukan sekadar kemalasan, melainkan bentuk protes diam-diam dari generasi muda yang lelah dan kecewa dengan pasar kerja yang dianggap tidak memberikan harapan. 

Banyak dari mereka merasa percuma berusaha keras jika hasilnya tetap nihil, sehingga memilih menarik diri dan menjalani hidup dengan cara mereka sendiri.

Fenomena ini juga dipicu oleh burnout akibat persaingan kerja yang semakin sengit dan tuntutan hidup yang makin berat.

Banyak pakar menilai, gaya hidup manusia tikus adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap sistem yang dinilai tidak adil.

Mereka memilih untuk tidak ikut dalam perlombaan hidup yang melelahkan, dan mencari kenyamanan dengan cara sendiri.

Namun, jika dilakukan tanpa batas, gaya hidup ini bisa menjadi pelarian dari tanggung jawab dan berpotensi menimbulkan masalah baru, seperti isolasi sosial dan penurunan produktivitas.

 Baca Juga: Generasi Strawberry: Potensi Besar atau Masalah Besar bagi Perusahaan?

Fenomena manusia tikus di kalangan Gen Z adalah sinyal kuat bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam sistem sosial dan dunia kerja saat ini.

Gaya hidup ini bukan sekadar tren atau kemalasan, melainkan bentuk perlawanan terhadap tekanan hidup yang dirasa semakin berat.

Namun, penting untuk diingat bahwa istirahat dan perlawanan ini tetap harus diimbangi dengan tanggung jawab, agar tidak menjadi jebakan baru yang justru merugikan diri sendiri. ***

Editor : Dwi Puspitarini
#fenomena manusia tikus #kesehatan mental #gaya hidup pasif #tren viral #Gen Z