Tren ini biasanya muncul dalam format slideshow tiga bagian. Slide pertama akan menampilkan teks "Bismillah Avoidant". Slide kedua kemudian berisi screenshot percakapan WhatsApp, yang umumnya menunjukkan interaksi 'dingin', dry text (balasan satu kata seperti 'Y', 'Ok', 'gapapaa bebb'), slow response, atau bahkan ghosting.
Sebagai penutup, slide ketiga akan menampilkan teks 'Wabillahi Taufiq Wal Hidayah, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh' sebagai tanda tamat alias ‘sekian terima kasih'.
Secara sederhana, rangkaian slide ini adalah bentuk humor ironis oleh sebagian Gen Z untuk menunjukkan gaya komunikasi yang dingin, cuek, dan menghindar.
Perilaku 'jaga jarak' dan tidak komunikatif tersebut baik yang dilakukan si pengunggah atau pasangan chat-nya yang kemudian dilabeli sebagai "avoidant".
Dikritik Keras karena Salah Kaprah
Namun, tren ini langsung menuai kritik tajam dari sejumlah selebgram hingga pengguna TikTok lainnya, terutama mereka yang paham isu psikologi.
Masalah utamanya, apa yang disebut "Avoidant" di tren ini seringkali keliru.
Seperti yang terlihat di banyak video kritik, perilaku yang ditampilkan di screenshot (seperti dry text, cuek, atau lama membalas) seringkali bukanlah Avoidant Attachment Style yang sesungguhnya.
Banyak yang menyuarakan untuk berhenti menormalisasi perilaku orang yang kesulitan komunikasi pakai sebutan 'Avoidant'.
Beda 'Avoidant' Asli dan 'Bad Attitude'
Dalam psikologi, Avoidant Attachment Style adalah pola perilaku yang terbentuk sejak kecil, di mana seseorang merasa tidak nyaman dengan keintiman emosional dan akan menarik diri ketika hubungan terasa terlalu serius karena takut bergantung.
Perilakunya pun kompleks; seorang avoidant sejati bisa saja bersikap sangat berbeda dan hangat ketika bertemu orang yang 'tepat' dan memberi rasa aman.
Hal ini sangat berbeda dengan apa yang ditampilkan di tren, yang seringkali hanyalah perilaku tidak sopan, malas berkomunikasi, atau memang tidak tertarik.
Fenomena "Bismillah Avoidant" ini menjadi warning bagi sebagian Gen Z, generasi yang sangat sadar akan istilah-istilah psikologi, namun di saat yang sama, sangat rentan menyalahartikannya.
Tren ini seharusnya menjadi pengingat bagi Gen Z untuk belajar lagi lebih dalam soal labeling istilah psikologi, dan yang terpenting, berhenti melakukan self-diagnosis hanya berdasarkan konten viral.
Editor : Uways Alqadrie