Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Satu Profesi Nggak Cukup, Gen Z dan Tren Karier Multi-Identitas

Khoirun Nisa • Jumat, 31 Oktober 2025 | 11:14 WIB
Potret generasi multi-identitas yang menolak batas antara kerja dan passion.
Potret generasi multi-identitas yang menolak batas antara kerja dan passion.

KALTIMPOST.ID-Jika generasi sebelumnya ditanya “Kerja apa?”, jawabannya biasanya sederhana: “Guru”, “Akuntan”, atau “Insinyur”. Tapi jika pertanyaan yang sama diajukan kepada Gen Z, jawaban mereka bisa jauh lebih kompleks: “Saya analis data, tapi juga content creator, dan sedang merintis bisnis kopi.”

Selamat datang di era multi-hyphenate istilah untuk menggambarkan individu yang memiliki lebih dari satu identitas profesional. Mereka bukan sekadar punya pekerjaan sampingan, melainkan menjalani beberapa profesi secara bersamaan, dengan makna dan kebanggaan yang setara.

Berbeda dengan konsep side job yang semata demi menambah penghasilan, gaya hidup multi-hyphenate adalah tentang jati diri. Menjadi barista sekaligus penulis sekaligus desainer misalnya bukan hanya sumber uang tambahan, tetapi juga bentuk ekspresi diri dan bagian dari personal brand yang ingin mereka tunjukkan ke dunia.

Fenomena ini tumbuh subur berkat dua hal utama. Pertama, teknologi. Media sosial dan platform digital seperti Instagram, TikTok, LinkedIn, serta marketplace freelance membuka peluang luas bagi siapa pun untuk memonetisasi keahlian di luar pekerjaan utama.

Kini, seseorang bisa dikenal sebagai desainer tanpa harus bekerja di agensi cukup dengan portofolio kuat dan jaringan online yang aktif.

Kedua, adalah pergeseran nilai dalam dunia kerja. Gen Z menolak konsep lama tentang “pekerjaan stabil tapi membosankan.”

Mereka ingin karier yang tidak hanya menjamin gaji, tetapi juga memberi ruang untuk menyalurkan passion, kreativitas, dan idealisme.

Punya banyak peran dianggap lebih realistis daripada menaruh semua harapan di satu posisi atau perusahaan.

Bagi perusahaan, fenomena ini menjadi tantangan tersendiri. Kini, seorang karyawan bisa jadi juga seorang influencer dengan ribuan pengikut, atau punya usaha pribadi di luar jam kerja.

Batas antara “profesional” dan “personal” kian kabur, dan perusahaan dituntut lebih fleksibel dalam memahami bentuk kesuksesan yang baru ini.

Bagi Gen Z, sukses tidak lagi diukur dari satu jabatan atau karier tunggal, melainkan dari seberapa kaya pengalaman dan identitas yang mereka miliki.

Bagi mereka, punya banyak profesi bukan tanda kurang fokus, tapi justru bukti bahwa mereka berani mendefinisikan ulang arti bekerja dan berkarya di era modern.

 

Editor : Thomas Priyandoko
#pekerjaan #Gen Z #karier