KALTIMPOST.ID, Banyak orang luar bertanya-tanya, “Mengapa dia tidak pergi saja?” ketika melihat seseorang bertahan dalam hubungan yang jelas-jelas menyakitkan atau penuh kekerasan.
Jawaban di baliknya seringkali jauh lebih kompleks daripada sekadar “cinta buta”. Fenomena ini seringkali dijelaskan oleh konsep psikologi yang kuat: Trauma Bonding atau Ikatan Trauma.
Ikatan trauma adalah ikatan emosional yang sangat kuat yang terbentuk antara korban dan pelaku melalui siklus kekerasan (emosional atau fisik) yang diselingi dengan kebaikan dan afeksi yang intens.
Ini bukan cinta. Ini adalah mekanisme bertahan hidup yang disalahartikan sebagai cinta.
Siklus Adiktif yang Menciptakan Ikatan
Baca Juga: Kesampingkan Dulu Red Flag: Fokus pada 6 Green Flag Ini untuk Hubungan Jangka Panjang
Ikatan trauma terbentuk dari inkonsistensi. Ini adalah pola yang dikenal sebagai “penguatan intermiten” (intermittent reinforcement), siklus yang sama persis yang digunakan untuk melatih hewan atau yang membuat judi sangat adiktif.
Siklusnya biasanya terlihat seperti ini:
- Fase Tensi: Ketegangan mulai terbangun. Korban merasa harus berjalan di atas kulit telur (walking on eggshells).
- Fase Insiden/Kekerasan: Terjadi ledakan amarah, kritik tajam, perlakuan dingin, atau kekerasan lainnya.
- Fase Rekonsiliasi/Permintaan Maaf: Pelaku tiba-tiba berubah. Mereka sangat menyesal, menangis, berjanji akan berubah, dan menyalahkan stres atau faktor eksternal.
- Fase Bulan Madu: Pelaku kembali menunjukkan sifat baiknya yang menawan—sifat yang membuat korban jatuh cinta di awal. Mereka menjadi sangat romantis, baik hati, dan penuh perhatian.
Korban tidak terikat pada fase kekerasannya. Mereka terikat dan kecanduan pada harapan di fase bulan madu. Mereka rela menoleransi rasa sakit demi mendapatkan kembali “dosis” kebaikan singkat itu.
Otak mereka mengasosiasikan kelegaan (fase bulan madu) dengan pelaku, menciptakan ikatan biokimia yang sangat sulit diputus.
Langkah Awal Memutus Rantai Ikatan Trauma
Melepaskan diri dari ikatan trauma terasa seperti melepaskan diri dari kecanduan narkoba. Ini menyakitkan dan membutuhkan strategi.
Akui Bahwa Ini Bukan Cinta, Tapi Siklus: Langkah pertama adalah menyadari bahwa apa yang kamu rasakan bukanlah cinta yang dalam, melainkan respons trauma terhadap siklus yang adiktif.
Fokus pada Realitas, Bukan Potensi: Berhentilah mencintai “potensi” pelaku (dirinya saat sedang baik). Lihatlah realitas tindakannya secara keseluruhan. Catat insiden-insiden buruk sebagai pengingat mengapa kamu harus pergi.
Putus Kontak Total (No Contact): Ini adalah langkah paling efektif. Memblokir pelaku di semua platform memutus siklus. Tanpa kontak, pelaku tidak bisa memulai fase bulan madu untuk menarik kamu kembali.
Cari Sistem Pendukung Eksternal: Beri tahu teman tepercaya atau keluarga tentang apa yang terjadi.
Bergabung dengan kelompok dukungan atau mencari bantuan terapis sangat penting, karena mereka dapat memvalidasi pengalaman kamu dan mengingatkan kamu akan realitas di luar siklus tersebut.
Kamu berhak mendapatkan hubungan yang damai dan konsisten, bukan hubungan roller coaster yang menguras emosi kamu demi momen-momen kebaikan yang langka. (*)
Editor : Almasrifah