Bertepatan dengan momen tersebut, khutbah Jumat pekan ini mengangkat tema Bekal Utama di Bulan Sya’ban untuk menyambut Ramadhan.
Naskah khutbah Jumat ini disusun untuk mengajak jamaah menata kesiapan ruhani dan jasmani agar ibadah di bulan suci dapat dijalani dengan lebih khusyuk dan bermakna.
Materi yang terkandung dalam khutbah Jumat terbaru ini relevan dengan kondisi umat saat ini. Memperkuat iman, menjaga kesehatan, serta menyiapkan perbekalan sebelum Ramadhan tiba.
Naskah khutbah Jumat terbaru ini memuat tuntunan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW tentang amalan-amalan utama di bulan Sya’ban untuk mempersiapkan diri menyambut bulan suci.
Untuk lebih lengkapnya, berikut ini naskah khutbah Jumat 23 Januari 2026 yang dilansir dari laman jabar.nu.or.id, Kamis (22/1/2026).
Khutbah I
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا، فَصَّلَ وَبَيَّنَ وَقَرَّرَ صِرَاطًا مُسْتَقِيْمًا وَمَنْهَجًا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ خَيْرِ الْأَنَامِ وَسَلَّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ، فَيَاعِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، ﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا﴾ صَدَقَ اللهُ الْعَظِيْمُ
Hadirin Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah Swt
Puji serta syukur, marilah kita panjatkan kepada Allah Swt yang telah memberikan nikmat sehat wal afiat sehingga kita bisa berkumpul untuk melaksanakan shalat Jumat di tempat yang berkah ini. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Baginda Alam Nabi Besar Muhammad saw. juga kepada keluarga, para sahabat, tabi’in dan tabiatnya, hingga kepada kita selaku umatnya.
Artinya, jika sakit kita boleh tidak berpuasa, namun tetap berkewajiban meng-qadha di lain hari. Terakhir, yang perlu kita persiapkan di bulan Sya’ban dalam menyambut bulan Ramadhan adalah perbekalan. Tak bisa dipungkiri jika kita bekerja mencari nafkah, sambil berpuasa, mungkin saja sedikit terganggu. Terlebih, etos atau semangat kerja di bulan Ramadhan sedikit berkurang. Maka tidak ada salahnya, kita mempersiapkan perbekalan itu dari sekarang. Insya Allah, dengan begitu, ibadah Ramadhan kita akan lebih fokus dan maksimal.
Hadirin Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah Swt
Akan tetapi, dari ketiga hal tersebut yang lebih utama kita persiapkan di bulan Sya’ban ini adalah keimanan dan ketauhidan kepada Allah. Sebab, pada praktiknya, kekurangsiapan dalam dua hal, yaitu kesehatan dan perbekalan, akan terkalahkan oleh kekuatan iman.
Contoh kecil, walau badan kurang begitu sehat dan perbekalan kurang begitu memadai, tetapi keimanan sangat kuat, maka kita akan tetap istiqamah menjalankan ibadah Ramadhan. Kita bisa meniru apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw untuk memperkuat keimanan di bulan Syaban ini dengan melacak perilakunya dalam menyambut bulan Suci Ramadhan, antara lain adalah: Pertama, bertobat dan membersihkan diri.
Layaknya kita akan kedatangan tamu agung nan terhormat, maka hendaknya kita berbenah dan menjaga kebersihan. Begitu pun saat akan kedatangan bulan Ramadhan yang mulia. Sepantasnya kita membersihkan diri, lahir dan batin. Termasuk membersihkan diri dari berbagai dosa dan segala yang mengotori hati.
As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki dalam kitab Ma Dza fi Sya’ban, hal. 57, menyebutkan salah satu bentuk tobat dan membersihkan diri adalah membaca istighfar, terutama pada malam nisfu Sya’ban, malam istimewa bagi para pencari rahmat dan ampunan. Menurutnya, istigfar tak hanya sekadar membersihkan diri, tetapi juga menjadi penarik rezeki dan penghapus kesulitan.
Hal itu seperti yang diungkap Rasulullah SAW:
مَنْ لَزِمَ الْاِسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Artinya, “Siapa saja yang membiasakan istigfar, maka Allah akan menjadikan jalan keluar atas segala kesempitannya, memberikan kelapangan atas segala kesusahannya, serta memberinya rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka,” (HR. Abu Dawud).
Kedua, memperbanyak puasa sunnah. Amalan ini dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW, sebagaimana yang pernah dikisahkan oleh Sayyidah ‘Aisyah dimana beliau senantiasa berpuasa hingga dikira tidak berbuka. Dan Sayyidah ‘Aisyah tidak melihat beliau lebih banyak berpuasa sunnah dalam satu bulan kecuali di bulan Sya’ban. Demikian sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim.
Tatkala ditanya, “Puasa apakah yang paling utama setelah Ramadhan?” Beliau menjawab: شَعْبَانَ لِتَعْظِيْمِ رَمَضَانَ Artinya, “(Puasa) Sya’ban demi mengagungkan Ramadhan,” (HR. At-Tirmidzi). Dan alasan yang cukup krusial mengapa Rasulullah memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban adalah diangkatnya atau dilaporkannya amal kepada Allah.
Hal itu seperti yang disabdakannya secara langsung:
فَذَلِكَشَهْرٌيَغْفُلُالنَّاسُعَنْهُ،بَيْنَشَهْرِرَجَبٍوَشَهْرِرَمَضَانَ،تُرْفَعُفِيهِأَعْمَالُالنَّاسِ،فَأُحِبُّأَنْلَايُرْفَعَعَمَلِيإِلَّاوَأَنَاصَائِمٌ
Artinya, “Ini adalah bulan yang banyak dilalaikan oleh orang-orang. Padahal bulan ini berada di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan di mana amal-amalan manusia diangkat kepada Allah. Dan aku ingin, tidaklah amalku diangkat kecuali sedang berpuasa,” (HR. An-Nasa’i).
Ketiga, mendekatkan diri pada Allah dan mengingat kematian. Tak begitu banyak yang tahu bahwa pada bulan Sya’ban Allah menetapkan umur hamba. Maksudnya, pada bulan itu Allah menentukan siapa saja yang akan wafat pada tahun tersebut. Adapun salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah, seperti yang dicontohkan Rasulullah, adalah berpuasa.
Demikian sebagaimana hadits riwayat Abu Ya’la:
إنَّاللَّهَيَكْتُبُعَلَىكُلِّنَفْسٍمَيِّتَةٍتِلْكَالسَّنَةَ،فَأحِبُّأَنْيَأْتِيَنِىأَجَلِىْوَأَنَاصَائِمٌ
Artinya, “Sesungguhnya, Allah swt. mencatat setiap jiwa yang akan meninggal pada tahun itu, maka aku ingin ajalku datang dalam keadaan berpuasa,” (HR. Abu Ya’la).
Bisa juga dengan cara memperbanyak shalawat kepada Nabi SAW. Amalan ini sangat berdasar mengingat pada bulan Sya’ban menurut sejarahnya ayat perintah shalawat diturunkan, sebagaimana yang sudah kita hafal bersama.
Dan masih banyak lagi amalan lainnya yang diyakini mampu membawa kita lebih dekat kepada Allah, seperti berdzikir, membaca Al-Quran, bangun malam, bersedekah, serta berdoa memohon kebaikan dan panjang umur. Mudah-mudahan, kita semua bisa dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan.
اَللَّهُمَّبَارِكْلَنَافِيرَجَبَوَشَعْبَانَوَبَلِّغْنَارَمَضَانَ بَارَكَاللهُلِيْوَلَكُمْفِيالْقُرْآنِالْعَظِيْمِ،وَنَفَعَنِيْوَإِيَّاكُمْبِمَافِيْهِمِنَاْلآيَاتِوَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ،وَتَقَبَّلَاللهُمِنِّيْوَمِنْكُمْتِلاَوَتَهُ،إِنَّهُهُوَالسَّمِيْعُالْعَلِيْمُ،أَقُوْلُقَوْلِيْهَذَاوَأَسْتَغْفِرُاللهَالْعَظِيْمَلِيْوَلَكُمْوَلِسَائِرِالْمُسْلِمِيْنَوَالْمُسْلِمَاتِفَاسْتَغْفِرُوْهُإِنّهُهُوَالْغَفُوْرُالرّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْاِتِّحَادِ وَالْاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاهُ نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَرِزْقًا وَاسِعًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَحَلاَلًا طَيِّبًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا، اَللّٰهُمَّ طَوِّلْ عُمُورَنَا وَصَحِّحْ أَجْسَادَنَا وَنَوِّرْ قُلُوْبَنَا وَثَبِّتْ إِيْمَانَنَا وَأَحْسِنْ أَعْمَالَنا ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Editor : Almasrifah