Kehadiran anak-anak di masjid selama Ramadan dinilai menjadi kabar baik bagi masa depan umat. Momentum bulan suci dianggap sebagai waktu yang tepat bagi orang tua untuk menanamkan kecintaan anak terhadap masjid sejak dini.
Pemerhati keluarga, Ustaz Zaitun Rasmin, mengatakan membawa anak ke masjid merupakan bagian penting dari proses pendidikan dan pembiasaan iman.
“Anak-anak tidak akan mencintai masjid jika mereka tidak pernah diperkenalkan sejak dini,” ujarnya.
Menurutnya, Ramadan menjadi momen yang tepat untuk mengenalkan anak pada kehidupan masjid, mulai dari salat berjamaah hingga mendengarkan lantunan ayat suci Al-Quran.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa membawa anak ke masjid juga harus disertai dengan pembinaan adab. Masjid merupakan rumah Allah yang menuntut ketenangan dan penghormatan dari setiap jamaah.
Ia menekankan bahwa pendidikan mengenai adab masjid sebaiknya dimulai dari rumah. Orang tua perlu menjelaskan kepada anak bahwa masjid adalah tempat ibadah, bukan tempat bermain.
Selain itu, orang tua juga diminta tidak melepas anak tanpa pengawasan saat berada di masjid. Jika sebelum salat anak berinteraksi dengan teman-temannya, hal tersebut masih dapat ditoleransi. Namun ketika salat dimulai, anak sebaiknya berada di dekat orang tuanya.
“Jika sebelum salat anak berinteraksi dengan temannya itu masih bisa ditoleransi. Tapi saat salat dimulai, anak harus berada di dekat orang tuanya,” jelasnya.
Zaitun Rasmin juga menilai tidak perlu mengumpulkan anak-anak dalam satu saf khusus di bagian belakang masjid. Menurutnya, cara tersebut justru berpotensi menimbulkan keributan.
Sebaliknya, anak lebih baik berada di samping orang tuanya agar lebih mudah diarahkan selama pelaksanaan ibadah. Ia menambahkan bahwa pada masa Rasulullah, anak-anak juga hadir di masjid tanpa dipisahkan dalam kelompok khusus.
Di sisi lain, orang dewasa juga diharapkan dapat bersikap lebih bijak dalam menyikapi suara atau gerakan anak-anak yang terkadang muncul saat berada di masjid.
Menurutnya, anak memiliki tabiat alami yang tidak selalu dapat dikendalikan sepenuhnya. Karena itu, jamaah diharapkan tidak terlalu sensitif terhadap hal-hal kecil yang mungkin terjadi.
“Hadirnya anak-anak di masjid adalah investasi jangka panjang,” ujarnya.
Dari kebiasaan itulah diharapkan lahir generasi yang mencintai masjid, menjaga salat, serta memakmurkan rumah ibadah di masa depan. (*)
Editor : Muhammad Ridhuan