Sudah Banyak Minum Air Putih Tapi Kulit Tetap Kering? Ini Penyebab yang Perlu Diketahui

Dwi Puspitarini • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 11:11 WIB
minum air putih
Ilustrasi. Kulit kering tidak hanya berkaitan dengan jumlah air putih yang diminum, tetapi juga keseimbangan cairan tubuh dan kondisi lingkungan. (AI)

KALTIMPOST.ID - Masalah kulit kering sering dianggap terjadi karena seseorang kurang minum air putih. Banyak orang kemudian meningkatkan konsumsi air dengan harapan kulit menjadi lebih lembap dan sehat.

Namun, menjaga kelembapan kulit ternyata tidak hanya bergantung pada jumlah air putih yang masuk ke tubuh. Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, menjelaskan bahwa keseimbangan cairan, termasuk asupan elektrolit, juga memiliki peran penting dalam membantu tubuh mempertahankan kondisi cairan yang baik.

Melalui video yang diunggah di kanal YouTube miliknya, dr. Tirta menyebut kondisi kulit sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Suhu udara, tingkat kelembapan, hingga angin dapat menentukan seberapa cepat kulit kehilangan cairan.

Baca Juga: Sering Lemas Siang Hari? Bisa Jadi Waktu Makan Siang Anda Keliru

Kulit Kering Bisa Dipengaruhi Kondisi Udara Sekitar

Menurut dr. Tirta, banyak orang hanya fokus pada konsumsi air tanpa memperhatikan faktor lingkungan yang ikut memengaruhi kondisi kulit. Udara dengan kelembapan tinggi dan rendah dapat memberikan dampak berbeda terhadap permukaan kulit.

Ia menjelaskan bahwa ketika udara memiliki kelembapan tinggi, tubuh cenderung lebih sulit mengeluarkan panas melalui penguapan sehingga seseorang lebih mudah berkeringat. Sebaliknya, udara yang kering dapat membuat kulit lebih cepat kehilangan kelembapan.

"Kulit lembab tidaknya kulit itu sangat tergantung dengan situasi udara luar. Ini kamu kalau lihat di dalam HP, mau Android atau iPhone, kamu geser. Ada namanya humidity dan suhu. Kalau humidity-nya itu lembap banget, misal di atas 80 persen, jadi udaranya ini banyak air. Gerah, cepat berminyak, keringetan, gak menguap-menguap," kata dr. Tirta, dilansir dari inews, Minggu (2/8/2026).

Ia menambahkan bahwa kondisi udara yang terlalu kering juga dapat membuat kulit mengalami kekurangan kelembapan meskipun seseorang sudah mencukupi kebutuhan air harian.

"Tapi kalau kelembabannya di bawah 50 persen, kering udaranya, otomatis, kulit kita jadi ikut kering. Jadi, situasi apa yang terjadi pada kulit kita, itu dipengaruhi sangat krusial dengan environment atau lingkungan sekitar. Temperatur, humidity, dan angin," ujar dr. Tirta.

Baca Juga: Cari Minuman Tinggi Protein? Ini 10 Pilihan Praktis yang Cocok untuk Sehari-hari

Elektrolit Disebut Membantu Menjaga Keseimbangan Cairan Tubuh

Selama ini, air putih menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Namun, dalam kondisi tertentu, tubuh juga membutuhkan elektrolit agar keseimbangan cairan tetap terjaga.

Dr. Tirta menjelaskan bahwa ketika tubuh hanya mendapatkan air putih dalam jumlah banyak tanpa memperhatikan kebutuhan lain, cairan tersebut dapat lebih cepat dikeluarkan oleh tubuh.

"Nah kalau kamu minum air putih tapi kelembaban udara luar sangat kering, ya tetap kering. Minumnya bukan hanya air putih, tetapi air-air yang mengandung elektrolit. Jadi harus seimbang. Kalau air putih tok, ya tubuh akan keluarin, jadinya kencing," kata dr. Tirta.

Elektrolit merupakan kandungan yang membantu tubuh mengatur keseimbangan cairan. Kebutuhan ini dapat menjadi lebih penting ketika seseorang banyak kehilangan cairan akibat aktivitas fisik, cuaca panas, atau berada di lingkungan dengan udara kering.

Meski begitu, air putih tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Konsumsi cairan perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh dan aktivitas sehari-hari.

Baca Juga: Kebiasaan Minum Susu Botol Sebelum Tidur Bisa Bikin Gigi Anak Berlubang? Dokter Ungkap Faktanya

Kulit Kering Juga Bisa Menjadi Tanda Dehidrasi

Selain faktor lingkungan, kulit kering juga dapat menjadi salah satu tanda tubuh kekurangan cairan. Dr. Tirta menyebut perubahan kondisi kulit dapat membantu seseorang mengenali kemungkinan terjadinya dehidrasi.

Salah satu cara sederhana yang disebutkan adalah dengan memperhatikan respons warna pada kuku setelah ditekan.

"Apakah dehidrasi bisa menyebabkan pengerutan kulit? Betul. Dehidrasi itu bisa menyebabkan kulitnya jadi kering banget. Jadi, ini contoh ngeceknya, ini kuku dipencet kalau merah-merahnya gak kembali dalam tiga detik, situasinya berarti dehidrasi," kata dr. Tirta.

Meski pemeriksaan sederhana tersebut dapat menjadi tanda awal, kondisi tubuh tetap perlu diperhatikan secara menyeluruh. Rasa haus, tubuh lemas, serta perubahan kondisi kulit dapat menjadi sinyal bahwa asupan cairan perlu diperbaiki.

Untuk menjaga kelembapan kulit, kebiasaan minum cukup air tetap diperlukan. Namun, perhatian terhadap keseimbangan cairan tubuh, asupan elektrolit, serta kondisi lingkungan juga tidak kalah penting.

Kulit yang sehat tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang diminum, tetapi juga bagaimana tubuh mempertahankan cairan di dalamnya. Dengan memahami faktor-faktor tersebut, seseorang dapat lebih tepat menjaga kesehatan kulit dan mencegah masalah kulit kering.***

Editor : Dwi Puspitarini
kulit kering kelembapan kulit dr. Tirta dehidrasi tubuh menjaga cairan tubuh