KALTIMPOST.ID, Telur jadi pangan yang kaya gizi. Merupakan salah satu lauk favorit anak-anak yang hampir selalu tersedia di meja makan.
Selain enak dan mudah diolah, telur juga dikenal sebagai sumber protein hewani berkualitas tinggi dengan kandungan vitamin dan mineral penting.
Namun, ketika dimasak dengan cara yang berbeda seperti direbus dan didadar, mana yang yang lebih baik untuk anak?
Menurut Ahli Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Toto Sudargo, lebih menyarankan telur diolah dengan cara didadar, ceplok, maupun orak-arik, dibandingkan direbus.
Bukan semata karena kandungan gizinya, tetapi karena cara tersebut membuat bagian putih dan kuning telur lebih mudah dikonsumsi secara bersamaan oleh anak-anak.
“Terkadang anak cuma suka putihnya, tapi enggak suka kuningnya karena seret. Terkadang anak suka kuningnya yang gurih, tapi enggak suka putihnya,” ucap Toto.
“Tetapi kalau diorak-arik atau diceplok, terutama didadar, putih dan kuningnya tercampur menjadi satu dan bisa dikonsumsi oleh anak-anak," lanjutnya.
Mana yang Lebih Sehat untuk Anak? Dadar atau Rebus?
Perlu diingat, telur yang dimasak dengan minyak tentu membawa tambahan kalori.
Toto mengatakan, satu telur yang didadar, ceplok, atau orak-arik dapat menyerap sekitar 10 gram minyak sehingga ada tambahan energi dari minyak yang digunakan dalam proses memasak.
Walaupun demikian, kata dia, tambahan kalori tersebut tidak perlu menjadi kekhawatiran, terutama jika telur menjadi salah satu makanan yang paling disukai anak.
Hal yang penting diperhatikan adalah porsi dan keseluruhan pola makan anak, termasuk makanan yang dikonsumsi dalam sehari.
Terlepas dari cara pengolahannya, kandungan protein telur tetap menjadi salah satu keunggulannya.
Ucap Toto, satu telur berukuran sekitar 60 gram mengandung sekitar 6,3 gram protein.
Jumlah tersebut membuat telur dapat menjadi salah satu sumber protein hewani yang cukup berarti dalam menu harian anak.
Orangtua Perlu Mengenalkan Beragam Makanan
Toto menyebut para orangtua perlu memperkenalkan jenis makanan kepada anak sejak usia dini.
Bagi anak balita yang terpenting pada tahap awal bukanlah seberapa banyak makanan yang dihabiskan, melainkan seberapa beragam makanan yang dikenalkan.
“Tolong para ibu muda kenalkan kepada anak-anak balita semua jenis makanan. Bukan volumenya, tetapi jenis makanannya biar mengenal dulu, oh ini bau bayam, ini bau telur, ini bau ikan,” katanya.
Porsi yang diberikan pun tidak harus banyak. Untuk anak di bawah lima tahun, misalnya, orangtua dapat mengenalkan makanan dalam jumlah kecil.
Dua sendok makan sudah cukup untuk tahap pengenalan. Dari sana, anak perlahan belajar mengenali rasa, aroma, tekstur, dan jenis makanan yang berbeda.
Kebiasaan mengenalkan beragam makanan sejak dini menjadi penting agar anak tidak terbiasa hanya dengan jenis makanan tertentu.
Editor : Hernawati