KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Kebiasaan membandingkan pencapaian diri dengan unggahan orang lain di media sosial kini menjadi pemicu utama meningkatnya kecemasan pada anak muda. Fenomena pamer gaya hidup di ruang digital dinilai kerap menjebak psikologis remaja yang belum memiliki kedewasaan berpikir utuh.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, Imran Pambudi, menyoroti bahwa kelompok remaja dan dewasa muda saat ini merupakan mayoritas pengguna internet di Tanah Air. Pola konsumsi konten tersebut justru memperbesar dorongan untuk membandingkan nasib secara keliru.
Baca Juga: Tenggorokan Berdahak Ganggu Aktivitas? Ini 5 Pilihan Minuman Alami yang Ampuh Legakan Saluran Napas
Menurut Imran, apa yang tampil di layar gawai kerap kali bukan cerminan realitas yang utuh. Narasi kehidupan sempurna yang dipamerkan warganet sering kali sudah melewati polesan tertentu.
"Dia akan melihat apa yang terjadi di 'seberang' sana. Idolanya seperti apa, kesukaannya seperti apa," kata Imran di kantor Kemenkes, Jakarta, dikutip Minggu (18/10).
Baca Juga: GTK MTsN 2 PPU Raih 12 Medali di Porseni HAB Ke-81 Kemenag 2026
Imran menegaskan, paparan konten semacam itu secara perlahan menumbuhkan rasa cemas dalam diri individu. Seseorang akhirnya terjebak dalam siklus mengukur standar hidup pribadinya dengan pencapaian semu orang lain.
"Itu akhirnya yang membuat cemas, kok dia di umurku ini bisa beli Porsche, saya kok masih naik motor. Sehingga dia membandingkan dengan orang lain," lanjut Imran.
Baca Juga: Diciduk Tim Intel, Kajari Konawe Fachrizal Diperiksa Kejagung Atas Dugaan Penyalahgunaan Wewenang!
Masalah tersebut, menurutnya, sangat berkaitan erat dengan tingkat kedewasaan seseorang dalam menyikapi fenomena sosial. Kematangan cara berpikir memegang peranan krusial agar individu mampu menyaring fakta dan menerima kenyataan hidup secara sehat.
Berdasarkan sejumlah studi ilmiah, Imran memaparkan bahwa struktur otak manusia baru mencapai kematangan dan kedewasaan penuh pada kisaran usia 20-an. Ketidaksiapan biologis sebelum usia tersebut membuat remaja rentan salah menafsirkan apa yang mereka saksikan di dunia maya.
Baca Juga: Bank Mandiri Buka Suara soal Kredit Jhonlin Baratama dan Agunan Saham PGUN-JARR
"Kalau sebelum umur 20, otak masih berkembang, sehingga dia masih, kalau ada suatu hal, otak itu mencernanya belum benar," kata Imran.(*)
Editor : Thomas Priyandoko