Kemarau Lumpuhkan Jalur Sungai, Camat Long Pahangai: Barang Masih Ada, Tapi Harganya Mencekik

Jody Kristianto • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 12:36 WIB
KEMARAU: Kondisi sungai di Kampung Long Apari, Kecamatan Long Apari saat ini. (IST)

 

 
KEMARAU: Kondisi sungai di Kampung Long Apari, Kecamatan Long Apari saat ini. (IST)    
  

KALTIMPOST.ID, UJOH BILANG – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) kembali menjadi ujian berat bagi masyarakat di kawasan hulu, khususnya Kecamatan Long Pahangai hingga Long Apari. Surutnya debit Sungai Mahakam membuat aktivitas transportasi nyaris lumpuh dan berdampak langsung terhadap distribusi logistik.

Camat Long Pahangai Thomas Ngo saat dihubungi baru-baru ini mengungkapkan, kondisi sungai yang dangkal membuat speedboat tidak lagi bisa beroperasi normal. Akibatnya, pasokan kebutuhan pokok harus diangkut secara bertahap menggunakan perahu bermesin ketinting dari Kampung Lung Lunuk menuju ibu kota kecamatan hingga ke wilayah Long Apari.

"Di sana sudah mati kutu (Kecamatan Long Apari). Speedboat tidak jalan. Barang tetap ada, tetapi harus dijemput menggunakan ketinting dari Lung Lunuk. Karena ongkos angkutnya mahal, otomatis harga barang ikut naik," ujarnya.

Baca Juga: Cegah Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Pelajar, Satgas TMMD 129 Kodim 0904/Paser Gelar Penyuluhan

Meski demikian, Thomas memastikan stok sembako di toko-toko masih tersedia. Para pedagang tetap berupaya memasukkan barang melalui jalur darat hingga Lung Lunuk, kemudian melanjutkan distribusi lewat sungai menggunakan perahu kecil.

"Puji Tuhan stok masih ada. Kami terus memantau bersama DKPP yang juga sudah menyalurkan bantuan sembako murah. Jadi masyarakat masih bisa mendapatkan kebutuhan pokok, hanya memang harganya lebih tinggi," katanya.

Lonjakan harga paling terasa terjadi pada beras. Jika sebelumnya satu karung beras 25 kilogram dijual sekitar Rp 650 ribu, kini harganya telah menembus Rp 850 ribu per karung. "Kenaikannya cukup tinggi karena biaya angkut semakin besar," jelasnya.

Baca Juga: Badan Jalan di Ujung Jembatan Bengalon Kutim Ambles, Warga Khawatir Putus Akses Lima Kecamatan  

Hal serupa juga terjadi pada bahan bakar minyak. Di APMS, harga Pertalite masih sekitar Rp 10 ribu per liter, tetapi pembelian dibatasi maksimal lima liter per keluarga akibat keterbatasan pasokan. Sementara di tingkat eceran, harga Pertalite sudah mencapai Rp 20 ribu per liter.

"Bahkan masyarakat harus antre sejak pukul empat atau lima subuh untuk mendapatkan nomor antrean. Kalau ada kebutuhan mendesak seperti warga meninggal dunia atau keperluan pelayanan masyarakat, kami keluarkan rekomendasi agar bisa membeli lebih banyak," ungkap Thomas.

Ia menjelaskan, perjalanan distribusi logistik dari Lung Lunuk menuju Tiong Ohang membutuhkan waktu lebih dari tiga jam menggunakan ketinting. Kondisi semakin berisiko karena sungai dipenuhi batu dan dangkalan yang dapat menyebabkan perahu kandas bahkan karam.

"Barang harus estafet dari Lung Lunuk ke Tiong Ohang, baru dilanjutkan lagi ke Long Apari. Jalurnya sangat berbahaya," katanya.

Menurut Thomas, persoalan mahalnya harga kebutuhan pokok tidak akan selesai selama akses darat menuju wilayah perbatasan belum terhubung secara menyeluruh. Jalan darat dinilai menjadi solusi permanen agar distribusi logistik tidak lagi bergantung pada kondisi sungai.

"Kalau jalan tembus sudah selesai, mobil bisa langsung mengangkut barang sampai ke sini. Harga tentu akan jauh lebih murah karena biaya distribusi turun. Itu yang sangat diharapkan masyarakat perbatasan," tegasnya.

Ia pun berharap pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mempercepat pembangunan jalan menuju kawasan perbatasan Mahakam Ulu agar persoalan klasik setiap musim kemarau tidak terus berulang.

"Kalau pemerintah pusat atau provinsi ingin melihat sendiri kondisinya, silakan datang ke sini. Baru akan tahu bagaimana sulitnya masyarakat kami ketika sungai surut," pungkasnya. (*)

Editor : Sukri Sikki
harga kemarau beras Long Apari Mahakam Ulu