Sungai Mahakam Surut, BBM Long Apari Langka dan LPG 3 Kg Tembus Rp250 Ribu

Jody Kristianto • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 11:31 WIB
KESULITAN: Warga Long Apari harus mengantre sejak subuh untuk mendapatkan BBM di tengah terganggunya distribusi akibat Sungai Mahakam surut. (IST)
KESULITAN: Warga Long Apari harus mengantre sejak subuh untuk mendapatkan BBM di tengah terganggunya distribusi akibat Sungai Mahakam surut. (IST)

KALTIMPOST.ID, UJOH BILANG – Kemarau panjang mulai menguji daya tahan warga Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Sungai Mahakam yang semakin surut membuat jalur distribusi terganggu. Akibatnya, BBM sulit diperoleh, elpiji 3 kilogram langka, dan harga kebutuhan pokok ikut terdorong naik.

Bagi warga di kawasan perbatasan negara tersebut, mendapatkan BBM kini bukan perkara mudah. Antrean bahkan dimulai sejak subuh. Warga rela menunggu demi mendapatkan jatah bahan bakar yang semakin terbatas.

Baca Juga: TMMD Desa Biu Hampir Rampung, Tim Wasev Mabesad Sorot Perawatan Hasil Pembangunan

Camat Long Apari Petrus Ngo mengatakan, kelangkaan terjadi akibat pasokan yang masuk dari wilayah hilir terganggu. Kondisi Sungai Mahakam yang semakin dangkal membuat distribusi menggunakan jalur sungai tidak lagi lancar.

“Masalah antre itu karena kita terbatas akibat kemarau. Pendistribusian BBM tidak lancar,” kata Petrus saat dihubungi, Minggu (9/8).

Dalam kondisi pasokan terbatas, pembelian BBM diatur dengan jatah sekitar lima liter per keluarga. Kebijakan tersebut diterapkan agar distribusi dapat menjangkau lebih banyak warga.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: DPRD Kaltim Bidik PAD 2027 Rp 9,4 Triliun, Pajak BBM Kendaraan Jadi Andalan

Namun, kebutuhan mendesak tetap mendapat pengecualian. Warga yang harus membawa pasien atau menghadapi kondisi darurat dapat memperoleh BBM lebih banyak dengan rekomendasi pemerintah kampung.

“Kalau ada yang sifatnya emergensi, misalnya pasien, itu tidak boleh terganggu dan harus segera diberangkatkan. Dengan rekomendasi, bisa diberikan lebih,” jelasnya.

Persoalannya, pemerintah kecamatan belum dapat memastikan sampai kapan stok BBM mampu bertahan. Pasokan masih sangat bergantung pada distribusi dari wilayah hilir yang turut terdampak surutnya Sungai Mahakam.

Baca Juga: Izin Tambang Pasir DAS Kendilo Buntu Pemkab Paser dan Pemprov Kaltim Cari Jalan Keluar

Kondisi itu membuat warga di kampung-kampung paling hulu harus mengambil sendiri barang dari titik distribusi menggunakan perahu ketinting atau ces. Perjalanan menjadi semakin sulit ketika badan sungai menyempit dan dangkal.

“Kalau untuk stok kita belum bisa prediksi. Yang jelas pendistribusian dari hilir juga terganggu,” ujarnya.

Wilayah seperti Long Apari, Noha Tivan, dan Noha Silat, menjadi kawasan yang paling merasakan dampaknya. Selain perjalanan lebih jauh, kondisi sungai yang dangkal juga meningkatkan risiko bagi warga yang menggunakan perahu.

“Sekarang sangat dangkal, bahkan sangat berbahaya. Perahu bisa kena dasar, jebol atau karam,” ungkap Petrus.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Pembangunan IKN Harus Berdampak ke Ekonomi Kaltim

Kelangkaan pasokan juga berimbas pada harga. Jika harga BBM di Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) masih sekitar Rp10 ribu per liter, harga di tingkat toko masyarakat melonjak hingga Rp25 ribu–Rp30 ribu per liter.

“Harga di toko bisa mencapai Rp25 ribu sampai Rp30 ribu per liter,” kata Petrus.

Kondisi tersebut mulai terasa sejak awal Juli, ketika debit Sungai Mahakam terus menyusut akibat kemarau.

Tekanan tidak berhenti pada BBM. LPG 3 kilogram yang menjadi kebutuhan rumah tangga juga ikut langka. Harga gas bersubsidi itu bahkan disebut mencapai Rp250 ribu per tabung di tingkat masyarakat. “Memang benar. Yang ukuran 3 kilogram. Sudah langka masuk ke toko-toko,” ujarnya.

Baca Juga: Ribuan Warga Kutai Barat Meriahkan BujuRun Merdeka 2026 di Melak

Ketika LPG sulit ditemukan, warga kembali menggunakan kayu bakar untuk memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari. “Tidak ada pilihan. Termasuk dapur saya menggunakan kayu api,” tutur Petrus.

Di tengah tekanan harga dan terganggunya distribusi, Pemerintah Kabupaten Mahulu kembali menggelar program pangan murah. Bantuan tersebut diarahkan ke kampung-kampung di Kecamatan Long Apari, terutama wilayah paling hulu yang terdampak langsung sulitnya akses transportasi.

Petrus mengatakan, terdapat tiga kampung di wilayah paling ujung yang menjadi perhatian dalam distribusi pangan murah. “Yang paling ulu menjadi prioritas,” katanya.

Baca Juga: UINSI Samarinda Ramaikan Campus Fair Kukar 2026, Ajak Calon Mahasiswa Kenal Kampus Lebih Dekat

Program tersebut diharapkan dapat meringankan beban masyarakat yang harus menghadapi kenaikan harga sekaligus tingginya biaya distribusi akibat kondisi sungai.

Petrus mengapresiasi langkah Pemkab Mahulu yang kembali menyalurkan pangan murah bagi masyarakat Long Apari.

“Terima kasih pemerintah kabupaten sudah menyalurkan pangan murah kepada masyarakat Kecamatan Long Apari untuk meringankan beban masyarakat dengan kondisi kemarau panjang ini,” tuturnya.

Namun, menurutnya, pangan murah hanya menjadi solusi sementara. Persoalan mendasar di Long Apari tetap berkaitan dengan akses transportasi.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: BI Ungkap Peluang Tambah PAD Kaltim dari Properti hingga Hotel

Selama Sungai Mahakam menjadi jalur utama, distribusi barang akan sangat bergantung pada kondisi alam. Ketika kemarau membuat sungai surut, BBM, LPG, sembako, dan kebutuhan lainnya ikut terancam tersendat.

Karena itu, Petrus kembali meminta pemerintah pusat dan Pemprov Kaltim mempercepat pembangunan akses jalan menuju Long Apari.

“Harapan kita supaya pemerintah pusat dan pemerintah provinsi segera membangun akses jalan menuju Kecamatan Long Apari,” tegasnya.

Menurut dia, jalan darat akan menjadi solusi ketika kemarau kembali melanda. Distribusi barang tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kondisi sungai. “Kalau jalan sudah ada, terjadi kemarau kan lebih mudah. Barang bisa diangkut pakai mobil,” katanya.

Baca Juga: Kaltim Masih Jadi Lokomotif Ekonomi Kalimantan, Kontribusi Capai 46,70 Persen

Bagi Long Apari yang berada di kawasan perbatasan negara, persoalan akses bukan sekadar urusan transportasi. Jalan menjadi urat nadi ekonomi sekaligus penentu keberlangsungan distribusi kebutuhan dasar masyarakat.

Sebab, ketika sungai tak lagi bersahabat, warga di ujung Mahulu membutuhkan jalur lain agar kebutuhan pokok tetap sampai ke tangan mereka.

“Ini harapan kami atas nama masyarakat Kecamatan Long Apari sebagai kecamatan di perbatasan negara,” pungkas Petrus. (*)

 

Editor : Dwi Restu A
elpiji dan bbm sungai mahakam kemarau Long Apari Mahakam Ulu