KALTIMPOST.ID, UJOH BILANG – Bupati Mahakam Ulu Angela Udang Belawan mendorong agar berbagai program pemerintah pusat yang masuk ke daerah 3T dan perbatasan dapat disesuaikan dengan kondisi geografis, sebaran penduduk, serta potensi ekonomi masyarakat setempat.
Menurut Angela, karakteristik Mahakam Ulu yang memiliki wilayah luas dengan sebaran penduduk tidak merata membuat program pembangunan tidak dapat diterapkan dengan pola yang sama seperti di daerah perkotaan.
Baca Juga: Wabup Kutai Barat Nanang Adriani Resmikan Kantor BPP Tering untuk Perkuat Pendampingan Petani
Hal tersebut disampaikan Angela kepada wartawan usai membuka pelaksanaan seleksi substansi bakal calon kepala sekolah (BCKS) di SMP 1 Long Bagun.
Ia mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, sasaran program tersebut cukup luas, mulai dari anak sekolah hingga balita dan kelompok lanjut usia.
“Kalau lansia, balita, bayi yang sudah bisa makan, enam bulan sudah bisa dapat. Tentu anak sekolah juga,” ujar Angela.
Namun, kondisi geografis Mahulu menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaannya. Sekolah dan permukiman masyarakat tersebar di berbagai kampung dengan jarak yang berjauhan.
Baca Juga: Soroti Kualitas Pendidikan Tapal Batas Mahulu, Bupati Angela Desak Pusat Dengar Kendala Wilayah 3T
Karena itu, Angela menilai pelaksanaan program di Mahulu perlu mempertimbangkan pola pelayanan yang sesuai dengan kondisi setiap kampung.
Ia juga mendorong agar pemberdayaan masyarakat lokal menjadi bagian dari pelaksanaan program. Kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), ibu-ibu, hingga kelompok perempuan lanjut usia dinilai masih memiliki kemampuan untuk berkontribusi.
Menurutnya, kategori usia secara administratif tidak selalu menggambarkan produktivitas masyarakat di Mahulu.
“Banyak nenek-nenek yang masih muda, 50 tahun banyak. Ibu-ibu masih produktif sekali, masih bisa mengerjakan ini dan itu,” katanya.
Bahkan, Angela menyebut masyarakat lanjut usia di Mahulu masih aktif melakukan berbagai kegiatan produktif, termasuk membuat kerajinan tradisional.
Ia mencontohkan pembuatan tas ajat atau tikar dari rotan yang masih dilakukan masyarakat.
“Coba lihat di Mahulu, ada nggak nenek duduk diam, kecuali dia sakit. Bahkan yang sudah tua masih nekat ke ladang. Ada yang saya lihat masih jalan kaki,” ujarnya.
USUL PENYESUAIAN
Angela mengatakan, pemerintah daerah saat ini tengah menyusun laporan mengenai kebutuhan dan persoalan yang dihadapi masyarakat Mahulu. Laporan tersebut nantinya menjadi bahan untuk disampaikan kepada pemerintah pusat.
Ia meyakini peluang penyesuaian kebijakan tetap terbuka selama pemerintah daerah aktif menyampaikan kondisi di lapangan.
“Kalau kita melaporkan ke pusat seperti apa kesusahan kita di daerah, apa yang bagus kita lakukan di daerah, khususnya kita yang ada di 3T, perbatasan, dengan letak geografis yang luar biasa susah, saya rasa pusat tidak akan tutup telinga dan tutup mata. Pasti mau mendengarkan,” katanya.
Menurut Angela, pemerintah pusat tidak akan mengetahui secara utuh persoalan daerah apabila pemerintah daerah tidak menyampaikannya. “Selama kita tidak pernah melaporkan, apa yang mau diperbaiki?” tegasnya.
Ia mengatakan tidak semua usulan daerah dapat langsung direalisasikan. Namun, penyampaian laporan tetap penting agar pemerintah pusat dapat melihat program mana yang bisa diakomodasi.
“Misalnya laporan kita banyak, ada 100 permohonan, tidak mungkin semuanya langsung diberikan. Tapi setidaknya kita sudah memberikan laporan. Nanti kita lihat mana yang bisa diakomodir pusat,” jelasnya.
Selain program MBG, Angela juga menyoroti pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes/KDMP). Ia menilai program tersebut memiliki potensi besar untuk membuka peluang usaha masyarakat, tetapi pelaksanaannya harus disesuaikan dengan potensi masing-masing kampung.
Menurutnya, koperasi tidak seharusnya hanya menjalankan usaha yang seragam, seperti menjual sembako, apabila kondisi dan potensi setiap kampung berbeda.
“Kopdes ini sebenarnya bagus, memberikan peluang usaha. Cuma kita harus menyesuaikan lagi di daerah masing-masing. Tidak bisa dipukul rata, kita harus jual sembako,” katanya.
Angela mencontohkan Kampung Batu Majang yang memiliki potensi sumber mata air. Potensi tersebut, menurutnya, dapat dikembangkan melalui kerja sama dengan pihak swasta di sektor air minum kemasan.
“Di Batu Majang punya mata air yang bagus. Bagaimana caranya kita buka kerja sama dengan pihak air minum kemasan, kita bisa bermitra. Itu yang harus kita kembangkan, yang harus kita dorong dari Kopdes sendiri,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar fasilitas pembiayaan koperasi tidak hanya digunakan masyarakat untuk meminjam uang tanpa diikuti pengembangan usaha.
“Kopdes kan bisa memberikan kredit, pinjaman untuk membangun usahanya. Jangan sampai Kopdes-nya mereka hanya pinjam, pinjam, pinjam, terus tidak ada pengembangan usahanya. Sayang, tidak tumbuh ekonominya,” jelas Angela.
Karena itu, pemerintah daerah perlu terlebih dahulu memetakan potensi ekonomi masing-masing kampung sebelum menentukan jenis usaha yang akan dikembangkan.
Dorong Potensi Wisata
Angela juga melihat peluang pengembangan sektor pariwisata di sejumlah wilayah Mahulu. Ia menyebut potensi wisata alam dapat dikembangkan dengan melibatkan masyarakat lokal.
Salah satunya wisata mancing yang mulai didorong di wilayah Sungai Tepai. Menurut Angela, wisata alam dengan pengalaman kehidupan masyarakat lokal memiliki daya tarik bagi wisatawan mancanegara.
“Dengan wisata mancing, mancanegara suka sekali dengan wisata alam, hidup dengan kita orang asli sini. Tapi semuanya harus disiapkan sebaik mungkin,” katanya.
Ia menegaskan, pengembangan potensi tersebut membutuhkan perencanaan dan persiapan yang matang. Pemerintah daerah akan terus menginventarisasi kebutuhan dan potensi di setiap wilayah untuk kemudian disampaikan kepada pemerintah pusat.
“Selanjutnya kita usulkan lagi regulasi-regulasi yang kita perlukan di daerah, penyesuaiannya. Buat saya, koperasi bagus, MBG bagus, bagus banget. Kenapa tidak kita tangkap untuk diberikan kepada masyarakat kita, tapi dengan penyesuaian tadi,” pungkasnya. (*)
Editor : Sukri Sikki