KALTIMPOST.ID, UJOH BILANG – Kualitas udara di sejumlah wilayah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) kembali menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Hasil pengukuran Kualitas Udara Dalam Ruang (SKUDR) dan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Senin (5/10/2026) menunjukkan kualitas udara di lima wilayah pemantauan berada pada kategori tidak aman, mulai dari tidak sehat hingga berbahaya.
Pengukuran dilakukan di lima Puskesmas, yakni Tiong Ohang, Long Pahangai, Ujoh Bilang, Laham dan Long Hubung. Parameter yang diukur meliputi partikulat PM2,5 dan PM10, baik di dalam maupun luar ruangan.
Baca Juga: Dokter Gia Kunjungi RS Pertamina Balikpapan: Hadirkan Semangat, Empati, dan Apresiasi
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Diskes P2KB) Kabupaten Mahulu, dr Petronela Tugan, mengatakan kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius masyarakat, terutama karena tingginya konsentrasi partikulat yang berpotensi mengganggu kesehatan.
“Udara di beberapa wilayah menunjukkan kondisi tidak sehat hingga berbahaya. Ini perlu menjadi perhatian kita bersama karena paparan partikulat, terutama PM2,5 dan PM10, dapat berdampak terhadap kesehatan,” kata Petronela, Selasa (6/10).
Baca Juga: Cabor Berharap Bonus Peraih Medali Diumumkan Sebelum Porprov Digeber
Berdasarkan hasil pengukuran, kondisi udara luar ruangan secara umum lebih buruk dibandingkan udara dalam ruangan. Hal ini menunjukkan kuatnya pengaruh sumber pencemaran dari luar, terutama asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di Ujoh Bilang, misalnya, PM10 tercatat mencapai 697 pada pengukuran dalam ruangan. Sementara di Laham, PM10 indoor mencapai 840. Angka tinggi juga tercatat di Tiong Ohang dengan PM10 outdoor 418 dan Long Pahangai sebesar 373.
Petronela mengatakan tingginya partikulat juga menunjukkan bahwa asap dapat masuk dan memengaruhi kualitas udara di dalam bangunan.
“Kita melihat asap tidak hanya menjadi persoalan di luar ruangan. Kualitas udara di dalam ruangan juga harus diperhatikan karena partikulat dapat masuk ke rumah maupun bangunan,” ujarnya.
Ia meminta masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil serta penderita penyakit pernapasan, meningkatkan kewaspadaan selama kondisi kabut asap berlangsung.
Baca Juga: Pemkab Kubar Pacu Jalan dan Fasilitas Pendidikan di Long Iram
Petronela mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai, serta membatasi masuknya asap ke dalam rumah dengan menutup pintu, jendela dan ventilasi ketika kondisi udara di luar memburuk.
“Kelompok rentan harus menjadi perhatian utama. Kurangi aktivitas di luar ruangan dan gunakan masker. Upayakan juga agar asap tidak masuk ke dalam rumah sehingga udara di dalam ruangan tetap lebih bersih,” katanya.
Diskes P2KB Mahulu juga meminta masyarakat tidak mengabaikan gejala gangguan kesehatan akibat paparan asap. Keluhan seperti sesak napas, batuk yang terus-menerus, mata perih maupun keluhan kesehatan lainnya perlu segera mendapat penanganan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Menurut Petronela, Diskes akan terus melakukan pemantauan kualitas udara dan kondisi kesehatan masyarakat seiring masih berlangsungnya kabut asap.
Pengukuran SKUDR dan ISPU juga direkomendasikan tetap dilakukan hingga satu pekan ke depan untuk melihat perkembangan kualitas udara di Mahulu.
Selain penanganan kesehatan, koordinasi lintas sektor dengan BPBD, Dinas Lingkungan Hidup dan instansi terkait juga diperlukan untuk menangani sumber pencemaran akibat karhutla.
Kondisi kualitas udara tersebut sekaligus menjadi peringatan bagi masyarakat Mahulu agar tidak menganggap remeh kabut asap. Paparan partikulat dalam konsentrasi tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok masyarakat yang lebih rentan. (*)
Editor : Sukri Sikki