KALTIMPOST.ID, JAKARTA — Harga emas global akhirnya menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah, mencapai level USD 3.005,04 per troi ons pada Jumat (14/3). Pencapaian ini memicu euforia pasar logam mulia dan membuat banyak analis optimistis bahwa lonjakan harga emas belum akan berhenti dalam waktu dekat.
Dilansir dari Bloomberg, emas telah melewati titik psikologis penting yang sebelumnya berada di USD 2.700. Sejak menembus level tersebut, harga logam mulia terus merangkak naik dan kini memasuki fase baru yang dianggap sebagai awal dari reli jangka panjang.
“Setiap penurunan harga emas justru menjadi peluang beli,” ujar Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas TD Securities.
Ia menilai bahwa harga emas bisa menemukan keseimbangan perdagangan baru di kisaran USD 3.000 per troi ons sepanjang 2025. Bahkan, beberapa analis percaya target baru bisa mencapai USD 3.200 hingga USD 3.300 per troi ons dalam beberapa bulan ke depan.
Tak hanya dipengaruhi oleh momentum teknikal, penguatan harga emas juga disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian ekonomi global serta konflik geopolitik yang kian memanas.
“Rotasi besar-besaran ke aset safe haven seperti emas bahkan belum dimulai. Ini baru permulaan,” tambah George Milling-Stanley, Kepala Strategi Emas di State Street Global Advisors.
Kenaikan harga emas global juga tercermin di pasar domestik. Harga emas Antam kini menyentuh rekor baru Rp 1.742.000 per gram. Angka ini mengalahkan rekor sebelumnya yang hanya berselang sehari di level Rp 1.714.000.
Dengan tren kenaikan global yang terus berlanjut, analis memproyeksikan harga emas Antam akan menembus Rp 1.800.000 hingga Rp 1.850.000 per gram dalam waktu dekat, terutama jika ketegangan global tidak mereda.
Meski diprediksi bakal naik lebih tinggi, para analis mengingatkan bahwa fase konsolidasi atau koreksi jangka pendek sangat mungkin terjadi. Namun, koreksi ini diyakini hanya sementara dan justru menjadi momentum emas bagi investor untuk masuk pasar.
"Tren besar masih bullish. Jangan panik saat harga sedikit turun—itu justru peluang beli terbaik," tutur Bart Melek.(*)
Editor : Thomas Dwi Priyandoko