KALTIMPOST.ID, Pagar laut yang masih berdiri di wilayah perairan Kohod, Tangerang, masih belum sepenuhnya dibongkar.
Meski sempat menuai sorotan tajam dari publik lewat citra satelit, pemerintah pusat mengakui pembongkaran sempat terhenti karena kendala teknis dan faktor puasa Ramadan.
“Benar, Rabu besok kita lanjutkan pembongkaran. Kali ini kita kerja sama dengan Pemprov Banten,” ujar Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Pung Nugroho Laksono, Senin (14/4).
Baca Juga: Pemprov Dukung Kerja Bawaslu Kaltim di PSU, Siapkan Hibah Rp 1 Miliar
Pung menegaskan, meski titik pasti tak disebutkan, fokus utama tetap pada wilayah Kohod yang banyak disebut masyarakat.
“Kemarin sempat terhenti karena puasa. Mereka bilang, ‘kami puasa, Pak,’ ya kita hargai itu,” ujarnya.
Namun bukan cuma soal puasa, Pung juga membeberkan bahwa tantangan utama pembongkaran pagar bambu itu adalah minimnya peralatan berat.
“Bambunya itu besar-besar, seperti paha orang dewasa. Harus pakai ekskavator. Sayangnya, kita juga sedang efisiensi anggaran,” ungkapnya.
Hal ini diamini oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Banten, Eli Susiyanti. Ia mengungkap bahwa pagar laut sepanjang ratusan meter masih terlihat jelas dari pantauan citra satelit.
“Masih tersisa sekitar 600 meter di tengah laut Kohod. Sudah kita coba tarik pakai kapal, tapi gak bisa. Harus pakai alat berat dan ponton,” kata Eli, Jumat (14/3).
Baca Juga: Arab Saudi Terapkan Aturan Baru Sambut Operasional Haji 2025, Ini Daftar Lengkapnya...
Eli menambahkan bahwa koordinasi dan komunikasi masih dilakukan agar pembongkaran segera dilakukan.
“Kita sudah duduk bareng, tinggal cari alat dan waktu yang pas. Kami juga minta dukungan semua pihak,” ujarnya.
Berdasarkan citra satelit, pagar laut itu membentang lebih dari 800 meter dari bibir pantai ke laut utara, dengan lebar mencapai 150 meter.
Ini menjadi perhatian banyak pihak karena dianggap mengganggu akses nelayan tradisional.
“Yang penting sekarang semangatnya kita selesaikan bersama. Ini tanggung jawab kita semua, jangan sampai berlarut-larut,” tutup Pung. ***
Editor : Dwi Puspitarini