KALTIMPOST.ID, Kesehatan menjadi salah satu prioritas utama dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun 2025, terutama bagi jamaah lanjut usia (lansia) yang jumlahnya cukup signifikan.
Wakil Bidang Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Balikpapan, dr. Siti Hatijah, mengingatkan pentingnya terkait kesiapan fisik jamaah sebelum berangkat ke Tanah Suci.
“Ibadah haji adalah ibadah fisik. Tapi ingat, agama memberi keringanan bagi yang udzur. Jangan dipaksakan, kesehatan harus jadi prioritas. Laksanakan sesuai kemampuan,” kata dr. Siti Hatijah seperti dalam keterangan tertulis yang dikutip Rabu (21/5).
Setibanya di Asrama Haji, seluruh jamaah wajib menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh. Tujuannya untuk memastikan semua dalam kondisi stabil dan siap berangkat.
“Kita cek tekanan darah, gula, dan riwayat penyakit. Obat-obatan pribadi juga harus lengkap,” jelasnya di Poliklinik Aziziyah Asrama Haji Balikpapan.
Menurutnya, kondisi cuaca di Arab Saudi yang sangat panas dapat membantu keadaan jika jemaah tidak menjaga stamina dan hidrasi.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya minum udara yang cukup, makan teratur, dan istirahat yang cukup.
Lebih lanjut, dr. Siti menyampaikan beberapa tips untuk menjaga daya tahan tubuh saat berada di Arab Saudi.
“Gunakan pelindung kepala, bawa semprotan udara untuk mendinginkan tubuh, dan hindari berjalan saat terik matahari. Masker juga wajib digunakan di tempat ramai, untuk mencegah infeksi saluran pernapasan,” pesannya.
Terkait penyakit yang kerap menyerang jamaah, dr. Siti menyebutkan adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), kelelahan, diare, serta gangguan kulit sebagai yang paling umum.
“Semua bisa dicegah dengan pola hidup bersih, makan makanan bergizi, dan tetap menjaga protokol kesehatan meskipun pandemi telah melanda,” ujarnya. Di akhir keterangannya, dr. Siti menyampaikan pesan kepada seluruh jamaah untuk tidak ragu memanfaatkan layanan kesehatan di Tanah Suci. “Tim kesehatan kami siaga 24 jam. Segera lapor jika merasa tidak enak badan. Lebih cepat ditangani, lebih baik,” tegasnya. ***
Editor : Dwi Puspitarini