JAKARTA – Kebakaran akibat arus pendek alias korsleting listrik menjadi momok menakutkan bagi masyarakat di Indonesia. Tak hanya mengakibatkan kerugian material, namun juga menelan korban jiwa. Apalagi jika terjadi di kawasan permukiman padat penduduk.
Di Ibu Kota Indonesia misalnya, berdasarkan data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Provinsi DKI Jakarta menunjukkan, sepanjang periode 2024, dari total 1.969 kejadian kebakaran. Di mana terdapat 61,12 persen atau 1.204 kejadian disebabkan oleh korsleting listrik.
“Listrik menjadi faktor utama penyebab kebakaran di area perumahan. Ini adalah perhatian kita bersama untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam penerapan keselamatan ketenagalistrikan pada level rumah tangga,” ungkap Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Jisman P. Hutajulu dalam siaran pers yang diterima Kaltim Post, Senin (26/5/2025) lalu.
Karena itu, Jisman dalam berbagai kesempatan selalu menekankan penggunaan sebuah perangkat pengamanan. Yakni Gawai Proteksi Arus Sisa (GPAS) atau anti setrum. Juga dikenal dengan nama RCCB (Residual Current Circuit Breaker) atau ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker). Fungsinya, untuk mencegah sengatan listrik dan kebakaran.
“Salah satu perangkat pengamanan yang sangat penting adalah GPAS atau anti setrum, yang berfungsi memberikan perlindungan terhadap bahaya arus sisa dan dapat mencegah kecelakaan maupun kerusakan peralatan elektronik,” ujar Jisman.
Sebagai langkah awal, Jisman menegaskan, pemerintah akan terus melakukan sosialisasi secara masif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemilik instalasi akan pentingnya penerapan GPAS, dengan fokus utama pada pasar, gedung pemerintahan, dan pengembang perumahan. “Kami berharap upaya ini dapat mengurangi angka kecelakaan serta kerugian materiil akibat risiko kelistrikan,” imbuhnya.
Upaya pemerintah tersebut lantas disambut Schneider Electric. Program strategis pun disusun dengan kampanye nasional “Gerakan Listrik Aman”. Inisiatif ini, menjadi bentuk dukungan Schneider Electric terhadap upaya pemerintah dalam meningkatkan kesadaran dan implementasi sistem kelistrikan yang aman dan andal untuk rumah Indonesia.
“Kampanye nasional Gerakan Listrik Aman yang diinisiasi oleh Schneider Electric ini berfokus pada edukasi dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan kelistrikan sejak dari instalasi,” ungkap President Director Indonesia & Timor-Leste, Schneider Electric, Martin Setiawan.
Gerakan Listrik Aman Schneider Electric ini lanjut Martin termasuk memasifkan penggunaan GPAS/RCCB di instalasi kelistrikan di masyarakat. Dirinya menyebut, Schneider Electric sendiri memiliki produk RCCB Domae, yang dirancang khusus untuk mencegah risiko kesetrum pada penghuni rumah dengan mendeteksi kebocoran arus listrik.
RCCB Domae memiliki fitur utama meliputi sensitivitas 30 mA untuk perlindungan manusia terhadap risiko kesetrum dan sensitivitas 300mA untuk melindungi aset atau mesin dari kerusakan akibat kebocoran listrik. Selain itu RCCB Domae juga dilengkapi tombol pengujian untuk memastikan perangkat berfungsi secara optimal.
Untuk spesifikasi, RCCB Domae berwana putih dengan dimensi 36mm (L) x 81mm (T) x 76mm (D). Beratnya 180 gram. Memiliki tingkat perlindungan IP20. Menjadi IP40 setelah berada di dalam penutup modular menurut standar IEC/EN 60529. Suhu pengoperasiannya dari -5°C hingga 40°C. Suhu penyimpanannya dari -40°C hingga 60°C.
RCCB Domae memiliki indikasi visual berupa tuas berwarna oranye yang akan turun atau off setelah tombol test ditekan. Menandakan bahwa GPAS bekerja dengan baik. Instalasi GPAS Domae hanya boleh dilakukan oleh instalatur bersertifikat dan harus dipastikan terpasang grounding pada instalasi listrik rumah.
“Dalam konteks ini, instalatur listrik menjadi garda depan yang krusial untuk memastikan instalasi rumah baru mengikuti praktik terbaik dalam keselamatan kelistrikan. Salah satunya adalah penerapan GPAS sebagaimana direkomendasikan dalam Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 20202 dan Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 20213 yang menetapkan standar nasional di bidang ketenagalistrikan,” beber Martin.
Pecahkan Rekor Muri Pelatihan Instalatur Listrik Dengan Peserta Terbanyak
Sebagai bagian dari kampanye nasional Gerakan Listrik Aman, Schneider Electric juga menggelar pelatihan instalasi listrik hunian secara serentak di 10 kota besar/provinsi. Antara lain Jakarta, Bandung, Surabaya, DI Yogyakarta, Medan, Semarang, Makassar, Bali, Pekanbaru, dan Kalimantan Timur. Baik secara daring dan luring.
Pelatihan ini diikuti oleh lebih dari 7.800 peserta dari 15 asosiasi dan komunitas instalatur listrik, menjadikannya pelatihan bersertifikat terbesar di bidang instalasi listrik hunian di Indonesia dan mencetak rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan predikat “Pelatihan Instalatur Listrik Dengan Peserta Terbanyak”.
Kegiatan ini juga selaras dengan agenda strategis pemerintah dalam memenuhi kebutuhan hunian layak melalui percepatan pembangunan 3 juta unit rumah. Namun, upaya ini tidak dapat dipisahkan dari pentingnya memastikan aspek keselamatan bangunan, khususnya terkait instalasi kelistrikan.
“Pelatihan ini menjadi bekal mereka (instalatur listrik). Dengan memiliki pengetahuan teknis dalam mewujudkan sistem kelistrikan hunian yang aman dan andal,” ucap Martin. Di sisi lain, melalui Gerakan Listrik Aman, Schenider Elecric juga telah berhasil mengedukasi lebih dari 2 juta masyarakat Indonesia melalui berbagai kegiatan seperti kampanye media sosial, podcast, dan kegiatan edukasi terhadap 18.000 mitra toko.
Sementara itu, Senior Customer Relations Manager MURI, Andre Purwandono, S.S mengatakan, pemecahan rekor oleh Schenider Elecric Indonesia ini bukan sekadar pencapaian kuantitatif. Tetapi simbol kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui edukasi teknis dan pemanfaatan teknologi proteksi listrik. Ini adalah upaya kolektif tentang pentingnya keselamatan sebagai pilar pembangunan.
“Rekor yang diraih oleh Schneider Electric Indonesia ini juga merupakan yang pertama kali tercatat dalam sejarah MURI untuk kategori pelatihan instalatur listrik dengan peserta terbanyak secara serentak di berbagai kota,” terang Andre. (rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan