KALTIMPOST.ID, Siswa SMA dan SMK di Sulawesi Barat (Sulbar) tak lagi hanya diuji lewat nilai. Mulai tahun ajaran 2025, mereka diwajibkan membaca minimal 20 buku sebagai syarat kelulusan.
Ini merupakan langkah tegas Gubernur Sulbar Suhardi Duka dalam menjawab krisis literasi yang dinilai semakin memprihatinkan.
"Literasi kita rendah sekali di Sulbar. Bahkan, seluruh Indonesia juga begitu. Maka kita perlu kebijakan yang sedikit mewajibkan," kata Suhardi dalam konferensi pers, Selasa (15/7/2025).
Ia menekankan bahwa kemajuan teknologi bukanlah alasan untuk melemahkan budaya membaca. Justru, menurutnya, teknologi tanpa kontrol bisa menyesatkan.
Dari 20 buku itu, dua di antaranya wajib dibaca seluruh siswa, yaitu buku tentang pahlawan nasional Andi Depu dan mantan Jaksa Agung Baharuddin Lopa—dua tokoh inspiratif asal Sulawesi Barat.
"Untuk anak-anak, kita ambil keteladanan beliau. Itu penting agar mereka kenal tokoh daerahnya sendiri," ucap Suhardi.
Baca Juga: Pengumuman OSN 2025, Cek Daftar Lengkap Nama yang Melaju ke Tingkat Provinsi
Tak Cuma SMA, SD dan SMP Juga Akan Kena Aturan Serupa
Suhardi berharap kebijakan ini turut diadopsi oleh para bupati di wilayahnya.
"Kalau SMA/SMK baca 20 buku, maka SMP cukup 10, dan SD bisa mulai dari 1 atau 2 buku," sarannya.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak-anak membaca di rumah.
Kebijakan ini diperkuat melalui Surat Edaran Gubernur Sulbar Nomor 000.4.14.1/174//11/2025 yang mencanangkan Gerakan Peningkatan Literasi Masyarakat.
Dalam surat itu, seluruh instansi pemerintah, sekolah dari jenjang SD hingga SMA/SMK, serta madrasah diinstruksikan:
- Membuat Pojok Baca atau Perpustakaan Mini
- Mengadakan kunjungan perpustakaan minimal seminggu sekali
- Mengalokasikan dana BOS untuk perpustakaan, sesuai dengan Permendikbudristek Nomor 63 Tahun 2023
Baca Juga: MPLS Ramah 2025, Larangan Tugas Berat dan Perpeloncoan, Ini Pesan Penting Wamendikdasmen!
Suhardi tahu kebijakan ini tidak mudah diterapkan di awal. Tapi baginya, ini awal yang harus dimulai sekarang.
"Bisa sampai 60 judul nantinya. Tapi kita mulai dari yang tidak terlalu berat. Jangan kaget dulu," ujarnya. ***
Editor : Dwi Puspitarini