Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ramai Fenomena Rojali-Rohana, Begini Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di Kuartal II 2025

jpg • Kamis, 7 Agustus 2025 | 13:14 WIB

 

Ilustrasi. Aktivitas belanja warga di Pasar Klandasan Balikpapan saat harga bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga mulai merangkak naik.
Ilustrasi. Aktivitas belanja warga di Pasar Klandasan Balikpapan saat harga bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga mulai merangkak naik.

KALTIMPOST.ID, Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2025 yang tercatat sebesar 5,12 persen secara tahunan (YoY) di luar prediksi para ekonom dan dunia usaha. Prediksi sebelumnya hanya di kisaran 4,69 persen - 4,81 persen.

Analis Kebijakan Ekonomi Apindo Ajib Hamdani mengatakan, secara siklus tahunan, kuartal kedua biasanya lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang ditopang oleh belanja masyarakat dalam periode Lebaran.

”Sebagai perbandingan, kuartal pertama 2024 sebesar 5,11 persen, kuartal kedua tercatat 5,05 persen. Sehingga, dengan data pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun 2025 sebesar 4,87 persen, para ekonom memprediksi pertumbuhan ekonomi cenderung lebih rendah lagi di kuartal kedua,” ujarnya di Jakarta, Rabu (6/8).

Menurut Ajib, hal ini juga didukung oleh Purchasing Managers' Index (PMI) sektor manufaktur versi S&P Global yang mengalami kontraksi sepanjang kuartal II karena dibawah level 50. April 2025 PMI Manufaktur tercatat sebesar 46,7. Penurunan paling dalam sejak 4 tahun terakhir. Mei mengalami peningkatan indeks menjadi 47,4. Dan, Juni kembali terkoreksi menjadi 46,9.

”Kontraksi PMI Manufaktur ini juga relevan dengan potret di lapangan, terjadi fenomena rombongan jarang beli (rojali) dan rombongan hanya nanya-nanya (rohana). Padahal daya beli dan konsumsi ini yang menjadi penopang signifikan pertumbuhan ekonomi,” urai Ajib.

Investasi Naik Signifikan

Mendalami pernyataan BPS, ada dua hal yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang cukup eskalatif di kuartal kedua 2025. Pertama adalah karena faktor investasi. Investasi tumbuh secara signifikan sebesar 6,99 persen, level tertinggi selama 4 tahun terakhir, terutama karena proyek infrastruktur.

”Kuartal kedua ini mencapai Rp. 477,7 triliun, dengan rasio 57,7 persen dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan 42,3 persen dari Penanaman Modal Asing (PMA),” beber Chief Economist Bank Permata Josua Pardede.

Relaksasi Suku Bunga Acuan

Faktor kedua adalah kebijakan moneter yang membuat relaksasi tingkat suku bunga acuan turun 25 basis point pada Mei menjadi 5,5 persen. Kebijakan itu cukup menambah likuiditas di sistem perekonomian sebesar Rp 375 triliun lewat relaksasi cadangan.

”Kebijakan ini diharapkan bisa berlanjut memberikan dampak positif pada kuartal ketiga, karena pada awal Juli, Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan tingkat suku bunga acuan menjadi 5,25 persen,” kata Ajib.

Waspadai Risiko Eksternal

Namun, kinerja positif ini masih rentan terhadap berbagai risiko eksternal. Khususnya, dampak ketegangan perdagangan global, inflasi harga komoditas. “Serta potensi tekanan pada rupiah dan pasar keuangan yang dapat memengaruhi pertumbuhan di semester kedua 2025,” pungkas Josua alumnus University of Amsterdam itu. (agf/han/dio)

Editor : Muhammad Rizki
#rojali #pertumbuhan ekonomi indonesia #Rohana