Plt Kepala BPBD Kota Makassar, Muhammad Fadli Tahar, mengungkapkan perhitungan sementara kerugian meliputi gedung DPRD empat lantai yang hangus, puluhan kendaraan roda empat dan roda dua yang terbakar, serta peralatan kantor yang tidak tersisa.
“Data sementara ini berdasarkan pengamatan langsung di lokasi kejadian. Namun angka ini bisa bertambah karena belum semua kerugian bisa dihitung,” tegasnya, Senin (1/9).
Dalam catatan BPBD, sebanyak 67 unit mobil musnah dilalap api. Jika dihitung rata-rata Rp200 juta per kendaraan, total kerugian untuk mobil saja mencapai Rp13,4 miliar.
Selain itu, 15 unit motor dengan nilai kerugian Rp240 juta juga ikut jadi arang. Kerugian paling sulit dihitung adalah hilangnya arsip dan dokumen penting milik DPRD yang ikut terbakar. Padahal arsip tersebut menyangkut administrasi pemerintahan dan pelayanan publik.
Tak hanya kehilangan dokumen, dampak kebakaran ini juga membuat aktivitas pemerintahan lumpuh. Gedung yang biasanya menjadi pusat rapat dan pembahasan kebijakan kini rata dengan tanah.
Pemerintah daerah terpaksa mencari lokasi sementara untuk rapat dan pelayanan, yang tentu saja menambah biaya baru.
Kerusuhan pecah sejak Jumat malam (29/8) hingga Sabtu dini hari (30/8). Massa yang belum puas bahkan melanjutkan aksi dengan membakar Kantor DPRD Sulawesi Selatan di Jalan Urip Sumoharjo. Situasi semakin mencekam dan membuat aparat keamanan harus berjibaku mengendalikan kondisi.
Kapolda Sulsel, Irjen Pol Rusdi Hartono, memastikan pihaknya telah mengantongi identitas kelompok yang diduga menjadi dalang pembakaran. “Potensial suspek sudah ada. Dalam waktu dekat, langkah hukum yang lebih jelas akan kami lakukan,” tegasnya.
Tragedi ini menimbulkan pertanyaan besar, siapa sebenarnya otak di balik aksi brutal yang membuat kerugian negara ratusan miliar rupiah? Publik kini menunggu komitmen aparat untuk menuntaskan kasus ini secara transparan dan tuntas.
Editor : Uways Alqadrie