KALTIMPOST.ID, Langit malam tadi seakan menyuguhkan panggung teater terbesar di jagat raya.
Bulan purnama yang biasanya bersinar terang, perlahan meredup lalu berubah warna menjadi merah tembaga.
Ya, itu adalah gerhana bulan total atau yang populer disebut Blood Moon.
Fenomena alam ini kembali menyapa Indonesia pada Minggu malam hingga dini hari Senin (8 September 2025), dan membuat banyak mata terpesona.
Panggung Langit di Atas Indonesia
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, proses gerhana mulai berlangsung sejak lewat tengah malam.
Di Ternate, Maluku Utara, bayangan Bumi mulai menutupi purnama sekitar pukul 00.24 WIT.
Saat memasuki puncak totalitas, tepatnya pukul 03.11 hingga 03.22 WIT, Bulan tampak merah gelap, seolah-olah dicelup ke dalam cat darah.
Fenomena ini berlangsung hingga sekitar pukul 03.53 WIT sebelum perlahan memudar.
Tak hanya Ternate, warga di berbagai kota lain di Indonesia juga dapat menikmati pemandangan langka tersebut.
Media sosial pun diramaikan dengan unggahan foto Bulan merah, diambil dengan kamera profesional maupun sekadar ponsel pintar.
Mengapa Bulan Tampak Merah?
Fenomena ini terjadi karena posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada segaris.
Bumi menutup penuh sinar Matahari yang seharusnya mengenai Bulan.
Namun, sebagian cahaya Matahari masih menembus atmosfer Bumi. Cahaya biru dengan panjang gelombang pendek terhambur, sementara cahaya merah dengan panjang gelombang panjang menembus dan membias ke arah Bulan. Itulah sebabnya permukaan Bulan terlihat merah tembaga.
Dalam ilmu atmosfer, proses ini dikenal sebagai hamburan Rayleigh mekanisme yang sama membuat langit tampak biru di siang hari dan oranye saat senja.
Dari Takut Jadi Takjub
Bagi masyarakat modern, gerhana bulan adalah tontonan indah sekaligus kesempatan belajar sains.
Namun di masa lalu, fenomena ini sering dikaitkan dengan mitos.
Ada yang percaya Bulan sedang dimakan raksasa, ada pula yang menganggapnya sebagai tanda datangnya bencana.
Kini, pemahaman ilmiah membuat gerhana lebih sering dipandang sebagai momen kekaguman.
Meski begitu, nilai spiritual masih tetap hadir. Banyak umat Islam misalnya, menjalankan salat gerhana sebagai bentuk refleksi atas kebesaran Sang Pencipta.
Gerhana pun jadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan keimanan.
Refleksi di Balik Fenomena
Gerhana bulan mengingatkan kita betapa kecilnya manusia dibanding skala jagat raya.
Sinar merah yang menutupi Bulan semalam adalah bukti sederhana tentang keteraturan alam semesta.
Dari balik kegelapan, kita diajak merenung bahwa ada banyak hal di luar kendali, tapi selalu bisa dipelajari dan disyukuri.
Fenomena ini mungkin hanya berlangsung beberapa jam, namun meninggalkan kesan yang panjang.
Bagi sebagian orang, itu adalah kesempatan untuk mengabadikan foto.
Bagi yang lain, momen berkumpul bersama keluarga menatap langit.
Dan bagi banyak orang, gerhana adalah pengingat: sesekali, berhentilah dari kesibukan, tengadahkan wajah, dan nikmati pertunjukan gratis dari alam.
Editor : Hernawati