Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Indonesia Peringkat 4 Pengguna Internet Dunia, Diskusi Web3 Soroti Peluang Ekonomi Digital dan Tantangan Regulasi

Nasya Rahaya • Jumat, 10 Oktober 2025 | 05:05 WIB
Diskusi daring
Diskusi daring

KALTIMPOST.ID-Indonesia kini menempati peringkat keempat dunia dalam jumlah pengguna internet.

Data terbaru mencatat 223,26 juta pengguna atau 78,3 persen dari populasi nasional. Pertumbuhan ini membuka peluang besar bagi ekonomi digital.

Namun, ketimpangan akses informasi dan dominasi segelintir perusahaan teknologi global menjadi tantangan serius dalam mewujudkan pemerataan kesejahteraan digital.

Isu tersebut menjadi fokus utama dalam diskusi daring bertajuk “Digitalisasi Ekonomi: Mengenal Potensi Web3 dalam Mendorong Kesejahteraan”.

Acara itu digelar oleh Institut Demokrasi & Kesejahteraan Sosial (INDEKS) bersama Friedrich Naumann Foundation (FNF) Indonesia dan Kemenham RI, Senin (7/10).

Diskusi bertujuan menganalisis hubungan kebebasan ekonomi, digitalisasi, dan kesejahteraan. Selain itu, forum ini memperkenalkan konsep Web3 serta prinsip desentralisasi kepada publik.

Para narasumber juga mengupas peluang karier, kewirausahaan, dan inovasi bisnis di ekosistem Web3 Indonesia, sekaligus menyoroti tantangan regulasi dan kesenjangan literasi digital.

Analis Hukum Biro Perencanaan dan Kerja Sama Kemenham RI, Erlangga Kristanto, menekankan pentingnya menempatkan manusia sebagai pusat digitalisasi ekonomi.

“Digitalisasi ekonomi bukan semata soal teknologi, tapi tentang manusia. Ini harus digarisbawahi,” ujarnya.

Ia berharap diskusi ini dapat memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem digital yang inklusif dan berkeadilan.

Program Officer FNF Indonesia, Elgawaty Samosir, menyebut diskusi tersebut sejalan dengan arus pemikiran global.

“Teknologi berkaitan dengan demokrasi dan partisipasi warga. Inovasi digital bisa menjadi jembatan antara kesejahteraan dan kebebasan,” ucapnya.

Narasumber pertama, Nanang Sunandar, menjelaskan kebebasan ekonomi sebagai hak individu menjalankan aktivitas ekonomi dan memanfaatkan hasilnya.

“Jika masyarakat bebas menggunakan apa yang dimiliki untuk kepentingannya, maka kesejahteraan akan tercipta. Unit primer kebebasan ekonomi adalah individu,” ujarnya.

Ajeng, Web3 Content Creator, memaparkan evolusi internet dari Web1 hingga Web3. Ia menegaskan, Web3 bukan pengganti generasi sebelumnya, tetapi penambah nilai.

Web3 memiliki empat ciri utama: desentralisasi, transparansi, kepemilikan aset digital oleh pengguna, dan sistem insentif berbasis token.

Menurut Ajeng, peluang kerja di Web3 sangat luas. “Tak hanya peran teknologi, tapi juga konten, strategi pemasaran, hukum, konsultan, manajemen proyek, moderator, hingga riset,” jelasnya.

“Web3 bukan cuma soal teknologi baru, tapi cara baru membangun kepercayaan, kepemilikan, dan masa depan yang lebih adil,” tambahnya.

Moderator Dedi Irawan menutup diskusi dengan menegaskan pentingnya peta jalan partisipasi Indonesia dalam ekonomi digital masa depan.

“Diskusi ini penting untuk mengurai kompleksitas, membuka peluang nyata, dan memperkuat prinsip inklusif serta transparansi hukum,” ujarnya. (rd)

Editor : Romdani.
#internet 5g #ekonomi digital #penajam paser utara #ibu kota nusantara #Kutai Barat