Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Ancaman Senyap di Palung Laut, Inovasi "Pemotong" Kabel China Memicu Krisis Jaringan Komunikasi Global

Ari Arief • Senin, 27 Oktober 2025 | 10:20 WIB
Ilustrasi pemasangan kabel jaringan internet di dasar laut.
Ilustrasi pemasangan kabel jaringan internet di dasar laut.

KALTIMPOST.ID-Republik Rakyat Tiongkok (China) secara konsisten memperkenalkan inovasi teknologi yang menarik perhatian dunia. Baru-baru ini, perhatian global tertuju pada pengembangan sebuah perangkat bawah laut yang berpotensi signifikan memengaruhi jaringan komunikasi global.

Perangkat yang dimaksud adalah alat pemotong berkemampuan super canggih yang dikembangkan oleh Pusat Penelitian Ilmiah Kapal China (CSSRC).

Alat ini dirancang dengan kemampuan untuk memutus kabel bawah laut, jalur transmisi yang bertanggung jawab atas 95 persen lalu lintas data di seluruh dunia.

Penting untuk dipahami bahwa kabel bawah laut adalah infrastruktur yang sangat vital bagi kelangsungan komunikasi dan infrastruktur energi global, serta terbuat dari material berlapis dan tangguh, termasuk baja, karet, dan polimer tebal.

Meskipun struktur kabel tersebut sangat sulit dihancurkan, alat pemotong buatan China ini diklaim mampu membelahnya dengan mudah.

Alat pemotong ini memiliki kemampuan untuk beroperasi dan memutus jalur kabel pada kedalaman ekstrem, mencapai 4.000 meter.

Kedalaman ini dua kali lipat dari kedalaman rata-rata infrastruktur komunikasi bawah laut yang ada. Perangkat ini dirancang untuk diintegrasikan dengan kapal selam berawak maupun nirawak (UUV) canggih milik China, termasuk seri Fendouzhe (Striver) dan Haidou.

Secara teknis, alat ini semula dikembangkan untuk operasi penyelamatan sipil dan penambangan sumber daya bawah laut.

Namun, potensi penggunaan ganda (dual-use) perangkat ini untuk memotong kabel bawah laut menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan negara-negara lain, khususnya dalam konteks geopolitik.

Misalnya, pemotongan kabel di dekat lokasi strategis yang sensitif seperti Guam, dapat memicu gangguan komunikasi global yang mengindikasikan krisis geopolitik yang parah, demikian laporan dari South China Morning Post.

Kabel bawah laut di Guam sangat krusial bagi strategi pertahanan rantai pulau kedua Angkatan Darat Amerika Serikat (AS).

Desain alat ini, dipimpin oleh insinyur Hu Haolong, berhasil mengatasi tantangan teknis signifikan di lingkungan bawah laut yang ekstrem.

Pada kedalaman 4.000 meter, di mana tekanan air melampaui 400 atmosfer, perangkat ini menggunakan cangkang paduan titanium dan segel yang dikompensasi minyak (oil-compensated seals) untuk mencegah kerusakan atau ledakan, bahkan selama penggunaan jangka panjang.

Mata pisau konvensional tidak akan efektif melawan kabel yang diperkuat dengan baja. Untuk mengatasi hal ini, Hu dan timnya mengembangkan roda gerinda berlapis berlian berukuran 150 mm yang berputar pada kecepatan 1.600 rpm.

Roda ini menghasilkan daya yang memadai untuk memotong baja sambil meminimalkan gangguan pada sedimen laut.

Dirancang untuk dioperasikan oleh kapal selam dengan sumber daya terbatas, alat ini dilengkapi motor tunggal berkekuatan satu kilowatt dan peredam gigi (gear reducer) 8:1.

Walaupun sistemnya efisien, penggunaan secara berkepanjangan dapat memicu masalah panas berlebih.

Perangkat tersebut dioperasikan oleh lengan robotik dalam kondisi visibilitas rendah (near-zero visibility) dan dilengkapi dengan teknologi pemosisian canggih untuk memastikan penyelarasan yang akurat.

Peluncuran perangkat ini menandai langkah signifikan dalam upaya China untuk memperluas dominasi dan kehadirannya dalam infrastruktur bawah laut.

Saat ini, Beijing mengoperasikan armada kapal selam berawak dan nirawak terbesar di dunia, memberikan mereka akses ke hampir seluruh bagian lautan global.

Alat pemotong kabel baru, yang dapat dioperasikan dari platform nirawak yang tersembunyi, memiliki potensi untuk mengeksploitasi kemacetan strategis (strategic choke points) tanpa perlu muncul ke permukaan.

Kemampuan ini telah memicu perdebatan sengit di komunitas penelitian militer, khususnya setelah insiden kerusakan jaringan pipa gas alam dasar laut Rusia (Nord Stream) oleh pihak tak dikenal selama konflik Ukraina.

Meskipun potensi militer alat ini besar, para ilmuwan China menekankan bahwa perangkat tersebut, yang sukses memotong kabel setebal 60 mm dalam uji coba darat, dirancang untuk mendukung "pengembangan sumber daya laut". Hal ini didasarkan pada meningkatnya dorongan global untuk mengeksploitasi sumber daya dari lautan.

Terlepas dari tujuan awalnya, terobosan ini akan semakin memperkuat kemampuan China dalam memanfaatkan sumber daya laut, memajukan ekonomi biru mereka, dan mengukuhkan statusnya sebagai kekuatan maritim yang krusial untuk pencapaian tujuan jangka panjang negara tersebut, demikian pandangan para ilmuwan terkait.

Sebagai informasi tambahan, beberapa waktu lalu China juga memulai pembangunan 'stasiun luar angkasa' bawah laut sedalam 2.000 meter di Laut Cina Selatan, yang dirancang untuk menampung minimal enam orang selama sebulan. (*)

Editor : Almasrifah
#jaringan komunikasi global #bawah laut #tiongkok #china #kabel bawah laut