KALTIMPOST.ID, JAKARTA -Peningkatan suhu global diperkirakan akan membawa perubahan signifikan pada Gurun Sahara di Afrika Utara. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai salah satu tempat terkering di dunia tersebut diprediksi akan mengalami kondisi yang lebih basah.
Saat ini, Gurun Sahara hanya mencatatkan curah hujan tahunan sebesar 7,5 cm. Namun, penelitian menunjukkan bahwa pada paruh kedua abad ke-21, curah hujan di kawasan itu berpotensi melonjak hingga 75 persen dari tingkat historisnya.
Baca Juga: Kapolres Kukar Buka Fakta Mengejutkan, Tiga Pelaku Curanmor Ternyata Residivis!
Thierry Ndetatsin Taguela, seorang peneliti iklim dan penulis utama studi, menyoroti pentingnya temuan ini. “Perubahan pola curah hujan ini akan mempengaruhi miliaran orang, baik di dalam maupun di luar Afrika,” jelasnya.
“Kita harus mulai menyusun rencana untuk menghadapi pergeseran ini, mulai dari pengelolaan risiko banjir hingga pengembangan tanaman yang tahan terhadap kekeringan,” ujar Taguela, seperti dikutip dari Eureka Alert (Jumat, 7/11).
Menurutnya, pemahaman mendalam tentang korelasi antara kenaikan suhu dan dampaknya pada curah hujan sangat penting untuk merumuskan strategi adaptasi di masa mendatang.
Studi yang dilakukan melibatkan 40 model iklim untuk curah hujan musim panas di Afrika pada periode 2050 hingga 2099, lalu membandingkannya dengan data historis dari tahun 1965 hingga 2014.
Baca Juga: Mengejutkan! Bulan Ternyata Kabur dari Bumi 3,8 Cm Tiap Tahun, Ini Berdampak Fatalnya!
Dalam penelitiannya, Taguela menganalisis dua skenario emisi gas rumah kaca: skenario sedang dan tinggi. Hasil dari kedua simulasi tersebut menunjukkan adanya peningkatan curah hujan secara umum di Afrika sepanjang abad ke-21, meskipun terdapat variasi antar wilayah.
Secara spesifik, Gurun Sahara diperkirakan mengalami peningkatan curah hujan terbesar, mencapai 75 persen. Sementara itu, Afrika bagian tenggara diprediksi meningkat sekitar 25%, dan bagian selatan-tengah sebesar 17 persen.
Namun, tidak semua wilayah akan menjadi lebih basah. Para peneliti memproyeksikan bahwa kawasan barat Daya justru akan menjadi lebih kering, dengan potensi penurunan curah hujan sekitar 5 persen.
“Sahara diperkirakan akan hampir meningkatkan tingkat curah hujan historisnya. Ini adalah temuan yang mengejutkan mengingat kawasan ini secara klimatologis sangat kering,” jelas Taguela.
Meskipun sebagian besar model sejalan dengan tren umum kondisi yang lebih basah, Taguela mengingatkan bahwa masih ada pencahayaan mengenai seberapa besar volume curah hujan yang diproyeksikan.
Baca Juga: Belajar dari Kasus Curanmor, Polres Kukar Buka Layanan Pengawasan Rumah Kosong
“Meski sebagian besar model menyepakati tren umum menuju kondisi yang lebih basah, namun tetap ada pencahayaan yang cukup besar tentang proyeksi jumlah curah hujan. Oleh karena itu, model penyempurnaan sangat krusial untuk membangun keyakinan yang lebih tinggi terhadap proyeksi regional,” tutupnya. (*)
Editor : Uways Alqadrie