KALTIMPOST.ID, JAKARTA- Polemik soal penanganan banjir di Sumatera kembali memantik kritik. Cendekiawan Nahdlatul Ulama, Hilmi Firdausi, menyoroti sejumlah pejabat yang dinilainya abai dan lebih sibuk membangun citra ketimbang mengurus warganya yang sedang tertimpa bencana.
Dalam unggahannya di platform X, Hilmi menyinggung kehadiran Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, di Sumatera pada saat daerahnya sendiri juga dilanda banjir.
“Ada gubernur dari provinsi lain datang ke Sumatera, padahal wilayahnya ikut kebanjiran,” tulis dia. Menurut Hilmi, langkah itu tak lebih dari panggung pencitraan yang tidak semestinya dilakukan di tengah situasi darurat.
Ia juga menyorot perilaku seorang bupati yang memuji Presiden secara berlebihan di hadapan para penyintas bencana. Hilmi menilai tindakan itu tidak peka terhadap situasi psikologis warga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.
Kritik Hilmi berlanjut pada kabar seorang kepala daerah lain yang justru berangkat umrah bersama keluarga ketika wilayahnya dilanda banjir parah. “Ada bupati yang menyerah mengurus bencana lalu pergi umrah,” ujarnya.
Tak berhenti di soal pejabat daerah, Hilmi menilai sebagian kementerian dan anggota DPR juga ikut menampilkan gaya serupa. Ia menyinggung “pencitraan ala menteri” dan gimik politik yang muncul di tengah lokasi bencana.
Hilmi menyatakan publik makin geram ketika komentar para pejabat dianggap tak menunjukkan empati.
Selain itu, Hilmi menyesalkan kemunculan buzzer yang menyerang warga yang menyampaikan kritik terhadap lambannya penanganan banjir. “Komentar asal bunyi, empati tak ada, lalu buzzer dikerahkan menyerang masyarakat yang kritis,” katanya.
Editor : Uways Alqadrie