KALTIMPOST.ID, Di tengah kondisi darurat pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh pada akhir November 2025, muncul perbedaan sikap yang mencolok antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah terkait arus masuk bantuan internasional.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, menegaskan bahwa daerahnya sangat terbuka terhadap bantuan dari luar negeri karena kondisi lapangan masih jauh dari kata cukup.
Menurut Muzakir, beberapa bantuan asing bahkan sudah mulai bekerja langsung di titik bencana. Salah satunya adalah tim dari China yang membantu proses pencarian korban longsor.
“Mereka sedang mengevakuasi banyak-banyak yang tertanam dengan lumpur. [Bantuan] dari LSM juga berhubung kait dengan pemerintah [China],” ujar Muzakir dalam video yang ia unggah di Instagram pribadinya, dikutip Senin (8/12/2025).
Tak hanya itu, ia menyebutkan Aceh juga menerima kembali bantuan kebutuhan pokok dan obat-obatan dari Malaysia.
Menurutnya, kasus ini tak pernah menjadi persoalan, karena yang dibutuhkan masyarakat adalah bantuan nyata, bukan perdebatan soal izin.
Dalam unggahan lainnya di akun @muzakirmanaf1964, Muzakir menegaskan Aceh tidak pernah menghambat bantuan asing.
“Mereka tolong kita kok kita persulit? Kan bodoh,” kata mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka itu, Senin (8 Desember 2025).
Aceh Masih Kekurangan Tenaga Medis
Muzakir mengakui bahwa sejumlah kebutuhan penting belum terpenuhi, terutama tenaga kesehatan.
“Dokter kita kurang. Mungkin yang akan menjadi dokter seperti koas mungkin akan kita gunakan juga,” ujarnya.
BNPB mencatat hingga Minggu (7/12/2025):
- 366 orang meninggal dunia
- 96 hilang
- 4.300 lebih luka-luka
Jumlah pengungsi mencapai lebih dari 900 ribu jiwa, dengan Aceh Utara menjadi wilayah terbanyak yaitu 316,6 ribu jiwa.
Di sisi lain, pemerintah pusat menyatakan belum membuka ruang bagi negara lain untuk menyalurkan dana bantuan.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menilai kemampuan Indonesia masih cukup kuat.
“Kami merasa bahwa pemerintah, semua masih sanggup untuk mengatasi seluruh permasalahan yang kami hadapi,” ujar Prasetyo di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta (3/12/2025).
Ia mengatakan banyak negara ingin membantu, namun pemerintah masih mampu mengatasinya, termasuk penggunaan metode distribusi yang tidak biasa.
“Termasuk harus menggunakan cara-cara yang mungkin tidak normal ya,” katanya.
Pemerintah mengklaim dana siap pakai sebesar Rp 500 miliar masih tersedia untuk penanganan bencana.
Sementara pusat menilai situasi masih terkendali, Aceh justru menyampaikan kondisi berbeda.
Dalam keterangan resminya, Muzakir menegaskan bahwa bantuan asing yang masuk tidak hanya bermanfaat tetapi juga tidak cukup untuk menjangkau seluruh warga terdampak. “Tersalur semuanya dan bahkan tidak cukup,” ucap Muzakir. ***
Editor : Dwi Puspitarini