Jabatan tertinggi di struktur Syuriyah itu dipandang bukan sekadar posisi organisasi, melainkan simbol otoritas keulamaan sekaligus penentu arah jam’iyah di tengah dinamika sosial dan politik nasional.
Pengasuh Pondok Bina Insan Mulia Cirebon, Kiai Imam Jazuli, menilai pemilihan Rais Aam semestinya berangkat dari ketentuan formal organisasi, bukan popularitas figur.
Menurut dia, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga NU telah mengatur mekanisme pemilihan melalui Ahlul Halli wal Aqdi, forum yang diberi mandat untuk menilai kelayakan calon secara substantif.
Dalam struktur NU, kata Imam Jazuli, Syuriyah merupakan lembaga tertinggi yang memegang kendali keagamaan dan kebijakan strategis organisasi. Rais Aam yang memimpin Syuriyah dituntut memiliki kapasitas keilmuan dan integritas moral yang tak diragukan.
Ia menyebut setidaknya ada empat kriteria utama yang harus melekat pada sosok Rais Aam. Pertama, alim dan memiliki kedalaman ilmu keislaman. Kedua, faqih atau mampu merespons persoalan umat secara bijak dan kontekstual.
Ketiga, bersikap zahid dengan menjaga jarak dari kepentingan duniawi. Keempat, memiliki wibawa serta pengalaman panjang dalam organisasi.
Kriteria tersebut, lanjut Imam Jazuli, harus diperkuat dengan nilai-nilai muru’ah, futuwwah, dan kemampuan menjadi penggerak organisasi. “Rais Aam bukan jabatan administratif. Ia pemimpin spiritual dan rujukan utama warga NU,” ujarnya.
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan menjadi momentum penting untuk menentukan arah kepemimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia itu, termasuk memastikan Rais Aam terpilih benar-benar mencerminkan marwah dan tradisi keulamaan NU.
Berdasarkan kriteria itu, ia menilai Prof Dr KH Said Aqil Siradj sebagai figur yang paling memenuhi syarat untuk memimpin Syuriyah NU pada periode mendatang.
“Jika kriteria itu diterapkan secara objektif, maka KH Said Aqil Siradj muncul sebagai figur yang paling lengkap dan paripurna,” ujar Pengasuh Pondok Bina Insan Mulia Cirebon tersebut.
Dari sisi keilmuan, KH Said Aqil disebut sebagai ulama alim dan faqih dengan latar belakang pendidikan di Universitas Ummul Qura, Mekkah, serta penguasaan mendalam terhadap khazanah keilmuan Islam klasik dan pemikiran kontemporer.
Dalam aspek spiritualitas, KH Said Aqil dinilai memiliki karakter zahid, tidak terikat ambisi duniawi meskipun memiliki kapasitas dan akses kekuasaan.
Editor : Uways Alqadrie