Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari setelah mengonfirmasi Ali Khamenei wafat di tengah eskalasi konflik militer di Timur Tengah.
Dilaporkan Ali Khamenei tewas terbunuh di kantornya saat menjalankan tugas pada Sabtu, 28 Februari 2026 dini hari.
Selain Khamenei, anak, menantu, dan cucunya dilaporkan juga turut menjadi korban serangan Amerika Serikat dan Israel.
Lantas, siapa Ali Khamenei?
Profil Ayatollah Ali Khamenei
Dalam penelusuran profil Ali Khamenei, nama lengkap Ali Khamenei adalah Sayyed Ali Hosseini Khamenei. Ia lahir di Mashhad pada 15 Juli 1939 dari keluarga ulama terpandang.
Orangtua Ali Khamenei dikenal religius dan hidup sederhana. Ayah Ali Khamenei, Sayyid Javad Khamenei, merupakan ulama berdarah Azeri-Turki, sedangkan ibu Ali Khamenei, Khadijeh Mirdamadi, adalah penghafal Al-Qur’an dan keturunan ulama besar era Safawi.
Masa Ali Khamenei muda diwarnai kehidupan penuh keterbatasan. Ia tumbuh di rumah kecil dengan kondisi ekonomi sederhana, pengalaman yang membentuk karakter serta arah kehidupan Ali Khamenei yang dekat dengan kalangan mustazafin.
Dalam kehidupan pribadinya, informasi mengenai istri Ali Khamenei relatif jarang terekspos. Ia menikah dengan Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh pada 1964.
Dari pernikahannya Ali Khamenei dikaruniai 6 orang anak. Nama-nama anak Ali Khamenei di antaranya Mostafa, Mojtaba, dan Masoud. Agama Ali Khamenei adalah Islam Syiah
Pendidikan Ali Khamenei
Pendidikan agama Khamenei dimulai sejak usia empat tahun di maktab tradisional, tempat ia belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an.
Setelah menamatkan pendidikan dasar di Mashhad, ia melanjutkan studi agama ke tingkat lebih tinggi.
Perpindahannya ke Qom pada 1959 menjadi titik penting. Di kota itu, ia menjadi murid setia Ruhollah Khomeini.
Tak sekadar mempelajari fikih, Khamenei menyerap gagasan revolusioner Wilayat al-Faqih—konsep kepemimpinan oleh ulama ahli hukum Islam yang kelak menjadi fondasi sistem politik Iran.
Di luar lingkungan pesantren, ia dikenal sebagai pecinta sastra. Fasih berbahasa Persia, Arab, dan Azeri, Khamenei aktif di forum-forum literasi.
Ia juga menerjemahkan karya pemikir Mesir Sayyid Qutb, yang menurutnya menjembatani semangat perlawanan di dunia Islam.
Biodata Ali Khamenei
Nama lengkap : Sayyed Ali Hosseini Khamenei
Nama Panggilan/Gelar : Ayatollah Ali Khamenei, Rahbar
Tempat, tanggal lahir : Mashhad, 15 Juli 1939
Usia : 86 tahun
Ayah : Sayyid Javad Khamenei
Ibu : Khadijeh Mirdamadi
Istri : Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh
Anak : 6 orang
Agama : Islam Syiah
Kebangsaan : Iran
Jabatan terakhir : Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran
Wafat : Minggu, 1 Maret 2026
Aktivis Anti-Monarki
Sejak awal 1960-an, Khamenei aktif menentang rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi. Aktivitasnya membuatnya berkali-kali ditangkap dinas rahasia SAVAK.
Antara 1962 hingga 1977, ia enam kali ditahan dan menjalani interogasi keras. Pada 1977, ia bahkan diasingkan ke Iranshahr di wilayah Sistan dan Baluchestan.
Ketika Revolusi Islam 1979 meletus, Khamenei masuk dalam lingkar inti kekuasaan baru. Ia menjadi anggota Dewan Revolusi dan terlibat dalam berbagai urusan strategis negara.
Pada 26 Juni 1981, ia selamat dari percobaan pembunuhan saat bom yang disembunyikan dalam tape recorder meledak ketika ia berpidato.
Serangan yang dikaitkan dengan kelompok Mujahedin-e-Khalq (MEK) itu membuat lengan kanannya lumpuh permanen.
Perjalanan Menjadi Pimpinan Tertinggi Iran
Khamenei menjabat sebagai presiden ketiga Republik Islam Iran periode 1981–1989. Masa kepemimpinannya diwarnai perang delapan tahun melawan Irak. Ia kerap mengunjungi garis depan untuk menyemangati pasukan, termasuk relawan Basij.
Sepeninggal Khomeini pada 1989, Majelis Ahli menunjuknya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Jika Khomeini dikenal sebagai penggagas revolusi, maka Khamenei dinilai sebagai figur yang menjaga kesinambungan sistem tersebut selama lebih dari tiga dekade.
Dalam kepemimpinannya, Iran menghadapi sanksi internasional, konflik regional, serta dinamika politik dalam negeri.
Ia memperkuat peran Iran dalam apa yang sering disebut sebagai “Poros Perlawanan”, membangun pengaruh di Lebanon, Palestina, Irak, dan Yaman.
Khamenei dikenal mengusung kebijakan “Kesabaran Strategis” dan “Fleksibilitas Heroik”, dengan menekankan kedaulatan nasional serta martabat dunia Islam.
Ia juga mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk program nuklir dan satelit, yang dipandang sebagai bagian dari kemandirian nasional.
Meski memegang kekuasaan besar, sejumlah kalangan menyebut ia tetap menjalani hidup sederhana, jauh dari kemewahan kepala negara pada umumnya.
Ia lebih memilih kehidupan asketis dan kebersamaan dengan kalangan ulama serta keluarga korban konflik. (*)
Editor : Almasrifah