KALTIMPOST.ID, Fluktuasi harga minyak dunia kembali menjadi perhatian serius. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi global dan meningkatkan risiko bagi Indonesia sebagai negara pengimpor.
Lonjakan harga dipicu konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi ini berdampak langsung terhadap jalur distribusi energi internasional yang menjadi tumpuan pasokan minyak dunia.
Harga minyak mentah global saat ini masih mengacu pada dua indikator utama, yakni Brent dan West Texas Intermediate (WTI), yang sama-sama menunjukkan tren peningkatan sejak konflik memanas.
Sejumlah negara anggota International Energy Agency (IEA) telah mencoba meredam gejolak dengan melepas cadangan minyak strategis ke pasar. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup efektif apabila konflik berlangsung berkepanjangan.
Risiko semakin besar karena jalur vital seperti Selat Hormuz yang dilalui jutaan barel minyak setiap hari berada dalam tekanan. Gangguan di kawasan Laut Merah dan Bab el-Mandeb juga berpotensi memperpanjang jalur distribusi, sehingga meningkatkan biaya logistik dan asuransi kapal.
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi peringatan serius. Ketersediaan cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional yang terbatas membuat ketahanan energi nasional cukup rentan terhadap gejolak global.
Pengamat energi dari UPN Veteran Yogyakarta, Nikolaus Loy, menilai dampak kenaikan harga minyak dunia hampir pasti akan dirasakan di dalam negeri.
“Indonesia masih sangat bergantung pada impor energi. Kenaikan harga global akan ikut berdampak dan berpotensi mendorong penyesuaian harga BBM di dalam negeri,” ujarnya dikutip dari Jawapos.com.
Menurutnya, upaya diversifikasi impor yang dilakukan pemerintah memang penting, namun belum cukup kuat untuk meredam tekanan jika konflik global terus berlanjut.
“Karena itu, pembangunan cadangan minyak strategis atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) menjadi langkah yang mendesak untuk memperkuat ketahanan energi nasional,” tambahnya.
Pemerintah memang telah berupaya mencari sumber impor alternatif, seperti dari kawasan Afrika. Namun, tingginya persaingan antarnegara untuk mendapatkan pasokan membuat langkah tersebut belum sepenuhnya efektif.
Dengan ketidakpastian global yang masih tinggi, langkah antisipatif dinilai perlu segera dilakukan agar Indonesia tidak semakin tertekan oleh gejolak harga energi dunia.
Editor : Ilmidza