KALTIMPOST.ID, Proyek tambak udang Rp 7,2 triliun di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini dikebut pemerintah.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan pembangunan kawasan tambak udang terintegrasi ini selesai dalam 2 tahun.
Tambak udang Sumba Timur ini dirancang sebagai model budidaya modern yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Proyek KKP udang ini berdiri di atas lahan hampir 2.150 hektare.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Tb Haeru Rahayu, mengatakan nilai investasi proyek ini mencapai Rp 7,2 triliun, termasuk biaya konstruksi dan manajemen.
Baca Juga: Lolos PTN 2026 Bukan Cuma Soal Belajar, Ternyata Ini Rahasia Jalur Langit UTBK SNBT!
"Pendanaannya cukup luar biasa, ini mencapai Rp 7,2 triliun dengan kebutuhan di dalamnya ada untuk manajemen konstruksi dan kemudian untuk konstruksinya," ujar Haeru.
Tambak udang Rp 7,2 triliun ini sebagian besar didanai dari pinjaman luar negeri sebesar Rp 6,1 triliun melalui skema kredit swasta asing (KSA).
Sisanya Rp 1,1 triliun berasal dari rupiah murni pendamping (RMP).
"Ini pinjamannya pinjaman luar negeri. Kita pakai KSA, kredit swasta asing. Ini memang skema-skema yang kami dapatkan dari Kementerian Keuangan," tambah Haeru.
Baca Juga: Harga Emas Makin Naik Dekati Level US$ 5.000, Tanda Perang Bakal Usai?
Awalnya proyek KKP udang ini ditargetkan rampung dalam 3 tahun.
Namun, Presiden meminta percepatan sehingga target dipangkas menjadi 2 tahun.
"Tetapi Pak Presiden minta kepada Pak Menteri ini untuk dilakukan percepatan-percepatan. Kami sedang push menjadi 2 tahun. Doakan mudah-mudahan kami bisa mengawal ini dengan baik," jelasnya.
Dalam proyek tambak udang Sumba Timur ini, pemerintah membuka peluang besar bagi sektor swasta.
KKP akan fokus membangun infrastruktur utama seperti sistem air, kolam, hingga pengolahan limbah.
Baca Juga: SPBE Cimuning Bekasi Terbakar Usai Ledakan, Warga Berhamburan Keluar Rumah
Sementara swasta didorong masuk ke berbagai sektor pendukung, mulai dari penyediaan bibit, pakan, hingga pengolahan hasil.
"Kami mengajak sektor swasta atau private company untuk bisa mengisi di sektor hulu maupun di sektor hilirnya," ujar Haeru.
Di sisi hilir, peluang investasi terbuka untuk pabrik es, pengolahan udang, hingga cold storage.
Tambak udang Rp 7,2 triliun ini diproyeksikan memberi dampak besar bagi ekonomi Sumba Timur.
Proyek KKP udang ini diperkirakan mampu menyerap 8.820 tenaga kerja.
Kapasitas produksi ditargetkan mencapai 52.000 ton udang per tahun.
"Maka dari investasi Rp7,2 triliun tersebut, diperkirakan dampak peningkatan pertumbuhan PDRB, produksi domestik regional bruto itu sebesar 34,7 persen," ujar Kepala BPPSDM KP, I Nyoman Radiarta.
Pada fase konstruksi saja, proyek ini bisa menyerap hampir 1.900 pekerja lokal dan mendorong pertumbuhan ekonomi sementara hingga lebih dari 40%.
Saat mulai beroperasi, nilai ekonomi udang diperkirakan mencapai Rp 3,38 triliun per tahun.
Bahkan, kontribusi devisa dari ekspor bisa menembus US$ 285 juta.
Selain ekonomi, tambak udang Sumba Timur juga disebut berpotensi mengurangi kemiskinan secara signifikan.
Perputaran upah diperkirakan mencapai Rp 260 miliar per tahun dan berdampak pada puluhan ribu orang.
"Dampak sosial yang dirasakan tentunya terkait dengan pengentasan kemiskinan diantaranya itu berpotensi mengangkat 55% penduduk miskin keluar dari kemiskinan struktural," terang Nyoman. ***
Editor : Dwi Puspitarini