KALTIMPOST.ID, Teddy Indra Wijaya, Sekretaris Kabinet, menyoroti adanya fenomena para pengamat yang kerap menyampaikan data ke masyarakat tapi tidak sesuai fakta.
Ia pun menyebut Indonesia telah inflasi pengamat. “Sekarang ini ada satu fenomena. Apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat,” ucap Seskab Teddy.
“Para pengamat ini berbicara tidak sesuai fakta. Datanya keliru,” lanjutnya.
Para pengamat ini, beber Teddy, berbicara tidak sesuai dengan keahliannya.
Ia pun mencontohkan ada seorang pengamat militer dan luar negeri, tapi pengamat tersebut memiliki latarbelakang di bidang kemiliteran maupun internasional.
“Ada pengamat beras tapi background-nya bukan di situ, ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri dan pengamat-pengamat itu datanya tidak sesuai fakta. Datanya keliru,” ujarnya.
Para pengamat ini, tutur Teddy, berupaya untuk mempengaruhi masyarakat.
Mereka berbicara untuk membentuk opini publik bahkan sejak Presiden Prabowo Subianto belum menjadi Presiden RI.
Akan tetapi faktanya, sebagian besar masyarakat lebih percaya kepada Prabowo.
“Tapi faktanya apa? Faktanya lebih dari 96 juta warga lebih percaya Pak Prabowo, tidak percaya mereka. Nah, itu adalah bukti nyata kepercayaan publik, bukan suatu asumsi," ungkap Teddy.
Lebih lanjut Teddy menekankan, pemerintah tidak anti terhadap kritik.
Sebagai negara demokrasi, perbedaan pandangan dan pendapat adalah hal yang biasa.
Namun jangan sampai, pernyataan tersebut justru berbuah kecemasan.
“Jadi saya kira boleh kita berbeda pandangan, berbeda pendapat, silahkan beri kritik, tapi jangan sampai kita memberi statement yang mengarah pada kecemasan terhadap negeri ini,” tandasnya.
Editor : Hernawati