KALTIMPOST.ID, MUARA TEWEH – Wilayah perbatasan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur mendadak mencekam.
Tragedi berdarah terjadi di area konsesi PT Timber Dana, Desa Benangin II, Kabupaten Barito Utara, Minggu (19/4) sekitar pukul 16.30 WIB.
Dalam waktu kurang dari satu jam, lima orang tewas mengenaskan. Satu korban lainnya kini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Peristiwa bermula saat sebuah mobil Kijang mendatangi pondok kayu milik keluarga korban.
Tiga pria berinisial L (55), P (50), dan M (52) turun dari kendaraan dengan membawa senjata tajam serta senjata api rakitan.
Tanpa banyak bicara, para pelaku terlebih dahulu memastikan identitas para penghuni pondok. Setelah target dipastikan, serangan brutal langsung dilancarkan.
Aksi kekerasan itu berlangsung cepat dan terencana. Para pelaku bahkan menyisir area sekitar pondok untuk memastikan tidak ada korban yang lolos.
Setelah enam orang terkapar bersimbah darah, pelaku diduga membakar pondok tersebut untuk menghilangkan jejak. Mereka kemudian melarikan diri sekitar pukul 17.30 WIB.
Suasana duka menyelimuti RSUD Muara Teweh saat lima ambulans tiba membawa jenazah korban.
Mereka adalah Cuah (55), Hasna (40), Tasya Haulina (17), Ono (50), serta David (3), balita yang menjadi korban termuda dalam tragedi ini.
Sementara itu, satu-satunya korban selamat, Alfian, masih dirawat intensif. Ia menjadi saksi kunci yang diharapkan dapat membantu mengungkap peristiwa tersebut.
Kerabat korban, Daniel Bendari, menyampaikan duka sekaligus kemarahannya. Ia mendesak aparat penegak hukum segera menangkap pelaku dan memberikan hukuman setimpal.
“Kami dukung penuh upaya kepolisian. Tangkap pelakunya, adili, dan jatuhkan hukuman seberat-beratnya, kalau perlu hukuman mati,” tegasnya kepada Kaltim Post, Selasa (21/4/2026).
Kapolres Barito Utara, AKBP Singgih Febiyanto, memastikan pihaknya tengah melakukan pengejaran intensif, termasuk hingga wilayah perbatasan.
Hingga kini, motif pembantaian masih dalam penyelidikan. Sejumlah dugaan berkembang di masyarakat, mulai dari sengketa lahan di area konsesi hingga konflik lama.
Bagi warga Desa Benangin II, tragedi ini bukan sekadar tindak kriminal. Peristiwa tersebut meninggalkan trauma mendalam sekaligus meruntuhkan rasa aman di wilayah perbatasan. (*)
Editor : Ery Supriyadi