KALTIMPOST.ID-Kasus pembunuhan satu keluarga di Muara Teweh, Barito Utara di Kalteng menyisakan duka bagi keluarga dan kerabat korban.
Salah satunya bagi Pondok Pesantren An-Najah Cindai Alus di Martapura.
Sebab di sanalah Tasya Walina, salah satu korban, mengenyam pendidikan. Meski sudah menjadi alumnus nama Tasya tetap dikenal baik oleh guru maupun adik tingkatnya..
“Katanya dari kakak-kakak, beliau orangnya baik,” ujar seorang santri.
Baca Juga: Terjawab! Alasan Pencairan TPG April 2026 Masih Tertunda, Ternyata Ini Strategi Baru Pemerintah
Setelah libur Ramadan dan memasuki bulan Syawal, Tasya Walinaa dijadwalkan kembali ke pesantren untuk menjalani masa pengabdian sebagai ustazah.
Ia direncanakan mengajar para santri kecil di pesantren tempatnya menimba ilmu.
Namun rencana tersebut tidak pernah terwujud.
Sebelum kembali ke pesantren, Tasya izin pulang ke kampung halamannya di Teweh Timur untuk membantu orang tuanya.
Kepulangan itu justru menjadi perjalanan terakhirnya.
Lima Orang Tewas dalam Peristiwa Berdarah
Peristiwa tragis terjadi di kawasan Timber Dana, KM 80, Teweh Timur, pada Minggu (19/4) sekitar pukul 16.30 WIB. Dalam kejadian tersebut, lima anggota keluarga tewas akibat serangan brutal oleh orang tak dikenal.
Salah satu korban adalah Tasya Walina yang saat itu sedang berada di rumah bersama keluarganya.
Kabar duka tersebut mengejutkan lingkungan pesantren dan para alumnus.
Sahabat Tak Percaya Mendengar Kabar Duka
Sahabat dekat Tasya selama 6 tahun, Bila, mengaku tidak percaya saat pertama kali mendengar kabar tersebut.
Ia sempat mencoba menghubungi ibu Tasya, namun panggilannya tidak tersambung.
“Kami belum tahu waktu itu kalau ibunya juga ikut meninggal dunia,” ujarnya.
Para sahabat kemudian mencoba mencari kepastian dengan menghubungi kerabat di Pulau Jawa.
“Mereka hanya meminta kami mendoakan Tasya,” kata Bila.
Pada malam hari, para alumnus berkumpul untuk menggelar doa dan tahlil bersama.
Sosok Santriwati yang Dikenang
Di pesantren, Tasya dikenal sebagai santriwati aktif dan dapat dipercaya. Ia merupakan bagian dari angkatan “The Primal Generation” tahun ajaran 2025/2026.
Selama menempuh pendidikan, ia pernah dipercaya memegang amanah di bagian perlengkapan, posisi yang membutuhkan kedisiplinan dan tanggung jawab tinggi.
Selain itu, Tasya juga dikenal tekun dalam menghafal Al-Qur’an. Meski tidak banyak bicara, ia dikenal konsisten dan rajin.
Bagi para santri kecil, sosok Tasya memang belum sempat mereka temui. Namun cerita tentang dirinya telah lebih dulu hidup di lingkungan pesantren.
Sosok ustazah yang seharusnya hadir mengajar, kini justru dikenang sebelum sempat kembali.
Cita-cita Menjadi Ustazah
Tasya memiliki cita-cita sederhana, yaitu menjadi ustazah dan mengabdi di pesantren.
Ia sempat menunda masa pengabdian selama enam bulan untuk menyelesaikan urusan keluarga di kampung halaman.
“Dia izin menunda pengabdian karena ingin menyelesaikan urusan keluarga,” ujar Bila.
Setelah itu, Tasya berencana kembali ke pesantren untuk mulai mengajar.
Namun takdir berkata lain. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan lingkungan pesantren.
“Kami sangat kehilangan. Semoga semua kebaikannya menjadi jalan terbaik baginya di sisi Allah,” tutur Bila.
Editor : Thomas Priyandoko