KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Ada kabar baik di Hari Buku Sedunia yang diperingati setiap 23 April. Minat baca warga Kota Samarinda terus naik dan kini sudah masuk kategori tinggi, melampaui rata-rata provinsi maupun nasional.
Data Tingkat Gemar Membaca (TGM) yang dirilis Perpustakaan Nasional mencatat skor Samarinda mencapai 84,86 pada 2024. Angka itu jauh di atas skor Kalimantan Timur yang berada di 69,53 dan nasional di 72,44 pada tahun yang sama. Dalam lima tahun terakhir, skor TGM Samarinda naik lebih dari 27 poin (dari 57,50 pada 2020).
Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Samarinda, Inui Nurhikmah, menyebut tren itu sudah terasa di lapangan. Kunjungan ke perpustakaan kota semakin ramai, terutama dari kalangan remaja.
"Komunitas-komunitas baca semakin banyak tumbuh. Mereka makin percaya diri menunjukkan bahwa suka membaca itu bukan sesuatu yang aneh," ujarnya kepada Kaltim Post saat ditemui di kantornya, Jumat (24/4).
Baca Juga: Cara Maulani Al Amin Lawan Kecanduan Gadget Anak: Ganti HP dengan Buku, Hasilnya Menakjubkan!
Perpustakaan Kota Samarinda buka dari pukul 08.00 pagi hingga 20.00 malam, termasuk hari Sabtu. Pada hari sekolah, kunjungan biasanya datang secara rombongan yang biasanya dibawa guru dalam program outing class atau wisata literasi. Sementara di akhir pekan, pengunjung lebih banyak datang mandiri bersama teman atau keluarga.
Koleksi perpustakaan pun terus bertambah. Saat ini setidaknya sudah tersedia sekitar 26 ribu judul buku dengan total 58 ribu eksemplar. Pengadaan dilakukan setiap tahun melalui anggaran APBD, meski realisasinya baru bisa dilakukan pertengahan tahun.
Selain itu, koleksi juga terus bertambah dari sumbangan masyarakat maupun perorangan, komunitas, hingga perusahaan. Hampir setiap hari ada saja buku yang masuk, meski jumlahnya bervariasi. Ada yang menyumbang dua, ada yang sampai 25 buku sekaligus.
Soal selera bacaan, Nurhikmah menyebut novel dan fiksi mendominasi permintaan. Tren book talk di media sosial ia nilai ikut berperan. Banyak pengunjung datang ke perpustakaan khusus mencari buku yang baru mereka lihat diulas kreator konten.
"Mereka datang tanya-tanya, ada buku ini tidak? Kami juga siapkan survei untuk menampung permintaan itu," katanya.
Berdasarkan survei itulah perpustakaan menyusun daftar pengadaan buku. Nurhikmah menyebut dalam tahun-tahun terakhir porsi pengadaan buku fiksi semakin besar karena mengikuti permintaan. Selain buku yang diminta masyarakat, tim perpustakaan juga memantau daftar buku best seller sebagai bahan pertimbangan.
Untuk mendorong minat baca, Dinas Perpustakaan rutin menggelar sejumlah program. Di antaranya lomba bertutur cerita daerah untuk anak SD yang berjenjang dari tingkat kota hingga nasional, dan pemilihan duta baca dengan syarat antara lain mampu mereview buku.
Ada juga kelas menulis yang mengajarkan proses dari belajar menulis sampai menerbitkan buku dengan genre yang berganti tiap tahun, mulai dari cerpen, feature, hingga puisi. Perpustakaan juga menggandeng komunitas seperti Samarinda Book Party yang beranggotakan ribuan orang untuk kegiatan baca bersama di akhir pekan.
Meski tren positif, Nurhikmah mengakui tekanan efisiensi anggaran menjadi tantangan tersendiri untuk pengadaan buku ke depan. "Kalau ada anggaran, kami selalu usahakan pengadaan setiap tahun. Tapi semua tergantung anggaran yang tersedia," tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo