KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Di tengah dominasi gadget, menumbuhkan minat baca anak kerap menjadi tantangan bagi orang tua. Namun, psikolog klinis Ira Mayang Sari menegaskan bahwa kebiasaan literasi tetap bisa dibangun, bahkan sejak usia sangat dini. Menurut Ira, kunci utama terletak pada peran orang tua dalam memahami tahap perkembangan anak dan konsistensi dalam mendampingi mereka.
“Sebagai orang tua harus belajar sepanjang hayatnya, membersamai pertumbuhan anak. Kita perlu memahami tahapan perkembangan anak,” ujarnya. Dia menekankan, membangun minat baca tidak harus dimulai dengan cara rumit. Langkah paling sederhana adalah membiasakan anak berinteraksi dengan buku setiap hari.
“Yang tersimpel adalah ngajak anak-anak baca buku fisik, dongeng atau cerita yang mereka punya ketertarikan,” jelasnya. Orang tua juga disarankan memberi ruang bagi anak untuk memilih buku sesuai minatnya. Setelah itu, proses membaca perlu dilakukan secara konsisten.
Baca Juga: Gadget Bikin Anak Anteng, Tapi Diam-Diam Gerus Minat Baca, Ini Kata Psikolog
“Setelah itu secara konsisten diajak untuk membacakan setiap hari. Sehingga otaknya mereka merekam,” katanya. Tak hanya membaca, interaksi menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Anak diajak berdialog, memahami isi cerita, hingga menarik nilai-nilai dari bacaan.
“Kita ajak anak berdialog aktif, kira-kira apa pesan yang didapat, bagaimana pendapat mereka,” tambah Ira. Menurutnya, pendekatan itu jauh lebih efektif dibandingkan gadget yang cenderung membuat anak menjadi penonton pasif. Dengan membaca, anak justru terlibat aktif dalam proses berpikir.
“Kalau gadget itu anak-anak dipaksa jadi penonton yang pasif, satu arah. Sedangkan membaca membuat anak lebih kreatif dan kritis,” tegasnya. Ira juga menyoroti pentingnya momen sebelum tidur sebagai waktu terbaik untuk membangun kebiasaan literasi. Pada fase itu, kondisi otak anak lebih reseptif terhadap penanaman nilai. “Membacakan cerita menjelang tidur itu sangat bagus untuk pertumbuhan kognitif anak,” tegasnya.
Baca Juga: Kalahkan Nasional! Skor Gemar Membaca Samarinda Melejit 84,86, Jadi yang Tertinggi di Kaltim
Bagi anak yang sudah terlanjur lebih tertarik pada gadget, Ira menyarankan pendekatan bertahap dengan sistem reward dan punishment. Cara itu dinilai efektif untuk membentuk kebiasaan baru. “Misalnya anak membaca satu cerita dan bisa menceritakan kembali, nanti diberikan reward berupa screen time,” jelasnya.
Sebaliknya, jika anak tidak memenuhi target, maka waktu penggunaan gadget bisa dikurangi. Pendekatan tersebut mengajarkan anak bahwa kesenangan perlu diusahakan. “Anak-anak jadi punya rasa tanggung jawab, bahwa mereka mendapatkan sesuatu atas dasar usaha,” katanya.
Ira menegaskan, tidak ada kata terlambat untuk mulai menumbuhkan minat baca. Selama orang tua memiliki komitmen dan konsistensi, kebiasaan ini bisa dibangun secara perlahan. “Tidak akan ada dampak negatifnya ketika kita mulai mengajak anak cinta literasi,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo