KALTIMPOST.ID, JAKARTA - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 2026 diperkirakan akan berlangsung sengit.
Ajang lima tahunan ini disebut tidak sekadar memilih ketua umum, tetapi juga menjadi arena pertarungan arah organisasi ke depan.
Direktur Eksekutif INTRAPOLS, Bustomi Menggugat, menilai dinamika kali ini jauh lebih kompleks dibanding periode sebelumnya.
Baca Juga: Balita di Cianjur Meninggal Usai Makan Bergizi Gratis, Ternyata Ini Fakta Sebenarnya
Ia menggambarkan adanya “tiga poros besar” yang tengah bersaing memperebutkan pengaruh, mulai dari lingkar kekuasaan negara hingga basis tradisional pesantren.
Menurutnya, ketiga poros tersebut kini aktif melakukan konsolidasi di tingkat wilayah hingga cabang. Pergerakan ini menunjukkan bahwa Muktamar NU bukan hanya soal figur, melainkan pertarungan kepentingan strategis di tengah perubahan politik nasional pasca Pemilu 2024.
Poros pertama datang dari kubu petahana yang masih bertumpu pada kepemimpinan Yahya Cholil Staquf.
Kelompok ini mengandalkan capaian selama masa kepemimpinannya, seperti digitalisasi organisasi dan peran aktif NU di kancah global, termasuk keterlibatan dalam forum internasional R20.
Namun, kritik terkait gaya kepemimpinan yang dianggap terlalu terpusat menjadi tantangan tersendiri.
Sementara itu, poros kedua mengerucut pada figur Nasaruddin Umar. Tokoh yang kini menjabat Menteri Agama tersebut dinilai memiliki kedekatan dengan pemerintah dan dianggap mampu menjaga relasi harmonis antara NU dan negara.
Adapun poros ketiga berasal dari kalangan pesantren yang berupaya menguatkan kembali basis kultural NU. Kelompok ini menekankan pentingnya menjaga identitas asli organisasi sebagai representasi ulama dan santri di tengah derasnya arus politik praktis.
Pengamat menilai, tarik-menarik tiga kekuatan ini berpotensi menjadikan Muktamar 2026 sebagai salah satu yang paling menentukan dalam sejarah NU. Selain menentukan kepemimpinan baru, hasil forum ini juga diyakini akan memengaruhi posisi NU dalam lanskap politik nasional ke depan.
Editor : Uways Alqadrie