Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Penipuan Berkedok MBG Bertambah, Setelah 13 Kiai di Jawa Barat, Laporan Juga Datang dari Sumatera

Ari Arief • Rabu, 13 Mei 2026 | 13:43 WIB

 

Merasa ditipu program MBG, 13 pengasuh pondok pesantren di wilayah Jawa Barat mendatangi Lembaga Bantuan Hukum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (LBH PP GP Ansor),
Merasa ditipu program MBG, 13 pengasuh pondok pesantren di wilayah Jawa Barat mendatangi Lembaga Bantuan Hukum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor (LBH PP GP Ansor),

 
KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Program prioritas pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab untuk mengeruk keuntungan pribadi.

 Sedikitnya 13 kiai pengasuh pondok pesantren di Jawa Barat (Jabar) menjadi korban penipuan pembangunan unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan kerugian mencapai ratusan juta rupiah per orang.

Aksi tipu-tipu ini diduga dijalankan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan koperasi berinisial DSN.

Baca Juga: 13 Kiai Tertipu Program MBG, Sudah Habis Jual Mobil dan Aset Pesantren untuk Bangun Dapur

Dengan mengiming-imingi keuntungan besar dengan jangka waktu yang lama, pelaku penipuna berhasil memperdayai para pimpinan pondok pesantren.

Korban yang berasal dari Cirebon, Kuningan, Depok, Bekasi, hingga Sukabumi ini mengalami kerugian materiil rata-rata Rp 700 juta hingga Rp 800 juta per orang.

Koordinator Tim Hukum Pesantren Korban Dapur MBG Koperasi DSN, Afriendi Sikumbang mengungkapkan, pelaku menjanjikan pihak pesantren menjadi pengelola program MBG.

 Syaratnya, pesantren wajib menyediakan lahan seluas 400 meter persegi dan mencari kontraktor sendiri untuk membangun dapur.

Baca Juga: 1.738 SPPG Program Makan Bergizi Gratis Disetop Sementara, BGN Temukan Pelanggaran Standar

"Awalnya diminta uang pendaftaran Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Kemudian, oknum tersebut meminta fee kepada kontraktor sebesar 8-10 persen atau sekitar Rp 72 juta agar proyek senilai Rp 1,2 miliar hingga Rp 1,5 miliar itu bisa berjalan," jelas Afriendi, dikutip Rabu (13/5).

Kecurigaan sebenarnya sempat muncul saat para kiai diundang ke kantor koperasi di wilayah Cianjur.

Kondisi kantor tersebut dinilai sangat tidak layak bagi lembaga yang mengklaim sebagai mitra program nasional. "Bahasa para kiai, kantornya seperti tempat pemancingan," tambahnya.

Lapor ke Bareskrim Polri


Meski sempat ragu, para kiai tetap melanjutkan pembangunan hingga progres mencapai 80 persen.

Namun sejak akhir 2025 hingga saat ini, pihak koperasi menghilang dan tidak dapat dihubungi. Merasa tertipu, ke-13 kiai tersebut mengadu ke LBH PP Pemuda Ansor.

Afriendi yang juga pengurus LBH PP Pemuda Ansor menyatakan akan membawa kasus ini ke ranah hukum lebih tinggi.

Baca Juga: BGN Larang SPPG Masak Mi Tanpa Chef Andal Usai 147 Anak Alami Gangguan Pencernaan

"Data korban terus bertambah. Di Sumatera Selatan (Sumsel), informasi dari jaringan NU ada sekitar 20 pesantren yang juga kena. Pekan depan, kami berencana melapor ke Bareskrim Polri," tegasnya.

Selain kerugian finansial, para kiai mengaku menanggung beban moral. Mereka merasa malu karena kejadian ini mencoreng citra institusi pesantren di daerah masing-masing.

Mereka berharap ada penegakan hukum yang adil untuk memutus mata rantai penipuan bermodus program pemerintah tersebut.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
#penipuan berkedok MBG #gp anshor #jabar #Mbg #pesantren