KALTIMPOST.ID, NGANJUK – Sebuah museum yang didedikasikan untuk mengenang perjuangan aktivis buruh Marsinah resmi rampung dibangun di Desa Nglundo, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan langsung museum tersebut pada Sabtu pagi, 16 Mei 2026.
Museum yang berdiri tak jauh dari rumah masa kecil Marsinah itu menjadi simbol penghormatan terhadap perjuangan kaum buruh di Indonesia. Peresmian diperkirakan dihadiri ribuan pekerja dari berbagai daerah.
Baca Juga: Kasus Ijazah Jokowi Belum Jelas, Refly Harun Sebut Peluang P21 Tipis
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea mengatakan seluruh persiapan acara telah memasuki tahap akhir. Menurutnya, kehadiran kepala negara menunjukkan perhatian besar pemerintah terhadap sejarah perjuangan buruh nasional.
Ia menjelaskan pembangunan museum dilakukan secara mandiri oleh KSPSI tanpa menggunakan dana negara. Organisasi buruh tersebut mengandalkan kekuatan internal untuk merealisasikan proyek yang telah lama direncanakan itu.
Di dalam museum, pengunjung dapat melihat berbagai benda peninggalan Marsinah, mulai dari pakaian terakhir yang dikenakan, tas pribadi, hingga kumpulan kliping surat kabar terkait kasus pembunuhan yang menggemparkan Indonesia pada era 1990-an.
Tak hanya itu, museum juga menghadirkan diorama kondisi buruh pada masa tersebut, termasuk kisah para pekerja yang disebut mendapat tekanan dan dipaksa menandatangani surat pengunduran diri.
Berbagai tuntutan perjuangan Marsinah juga dirangkum dalam ruang pamer khusus.
Salah satu bagian yang paling menyita perhatian adalah lokasi museum yang dibangun di atas tempat ari-ari Marsinah ditanam saat ia lahir. Lokasi tersebut berada tepat di samping rumah masa kecilnya, sehingga dinilai memiliki nilai historis dan emosional yang kuat.
Keberadaan museum ini diharapkan menjadi ruang edukasi sejarah sekaligus pengingat atas perjuangan hak-hak pekerja di Indonesia.
Baca Juga: Profil Lengkap Marsda TNI Muzafar, Mantan Pilot Presiden Kini Jadi Pangkogabwilhan II
Museum Marsinah menyimpan berbagai barang milik Marsinah semasa hidupnya. Area belakang museum juga dilengkapi rumah singgah gratis bagi peziarah yang belum mendapatkan penginapan dengan batas waktu menginap maksimal satu malam.
"Ada dua bagian (bangunan). satu ada museum mengenai sejarah dari mulai beliau lahir, sampai berjuang dan sampai akhirnya wafat, dan berikutnya adalah rumah singgah," ungkap Andi Gani.
Peresmian museum diperkirakan dihadiri sekitar 7.000 buruh yang berasal dari Surabaya, Mojokerto, Jombang, dan Nganjuk. Sejumlah tokoh juga dijadwalkan hadir, termasuk Sekjen International Trade Union Confederation (ITUC) Shoya Yoshida.
Museum dan Rumah Singgah Marsinah dibangun di sebelah timur rumah masa kecil Marsinah. Peletakan batu pertama pembangunan museum dilakukan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo pada Sabtu (27/12/2025).
Marsinah merupakan aktivis buruh dan pekerja pabrik jam tangan yang dibunuh karena kritis terhadap rezim Orde Baru dalam memperjuangkan nasib kaum pekerja.
Baca Juga: Purbaya Ultimatum WNI Simpan Harta di Luar Negeri, Wajib Pulangin Dana dalam 6 Bulan
Dia diculik pada malam, 5 Mei 1993, setelah memimpin demonstrasi memperjuangkan kesejahteraan buruh di perusahaannya bekerja.
Marsinah kemudian dibunuh dan jenazahnya ditemukan pada 8 Mei 1999 di tengah hutan Wilangan, Nganjuk.
Pembunuhan Marsinah diduga melibatkan militer. Namun, sampai hari ini, kasus kematiannya tidak pernah diungkap oleh aparat penegak hukum.
Marsinah dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Prabowo Subianto, pada 10 November 2025. Gelar yang sama juga diberikan kepada Soeharto, pemimpin Orde Baru yang dahulu dikri
tisi Marsinah.
Editor : Uways Alqadrie