KALTIMPOST.ID - Fenomena phising kloning suara AI kini menjadi ancaman baru dalam dunia digital karena pelaku mampu meniru suara seseorang dengan sangat mirip untuk menipu korban. Modus ini biasanya dilakukan melalui panggilan telepon darurat palsu yang membuat korban panik dan langsung mengikuti permintaan pelaku, seperti transfer uang, memberikan kode OTP, hingga membuka akses akun pribadi.
Dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan, penipu kini tidak hanya menyerang perangkat digital, tetapi juga memanfaatkan emosi dan rasa percaya korban agar aksi penipuan berjalan cepat tanpa verifikasi lebih lanjut.
Modus Kloning Suara AI Semakin Sulit Dibedakan
Perkembangan teknologi AI membuat pelaku kejahatan digital semakin mudah membuat suara tiruan yang terdengar seperti asli. Pelaku hanya membutuhkan sampel suara singkat dari media sosial, video, rekaman percakapan, atau pesan suara untuk membuat imitasi yang sulit dikenali. Bahkan, intonasi bicara, logat, jeda percakapan, hingga gaya berbicara seseorang dapat direplikasi secara detail.
Baca Juga: Guru ASN Bakal Direkrut Besar-Besaran? Pemerintah Mulai Hitung Formasi Baru Nasional
Modus yang paling sering digunakan adalah menciptakan situasi darurat mendadak. Korban biasanya menerima panggilan dari nomor tidak dikenal, namun suara yang terdengar justru sangat familiar. Pelaku kemudian meminta korban segera mengirim uang dengan alasan kecelakaan, kebutuhan rumah sakit, masalah hukum, atau kondisi genting lainnya.
Dalam banyak kasus, pelaku sengaja membangun tekanan psikologis agar korban tidak memiliki waktu berpikir panjang. Korban dibuat takut, cemas, dan panik sehingga langsung mengambil keputusan tanpa melakukan pengecekan ulang. Keadaan inilah yang membuat penipuan berbasis suara AI dinilai lebih berbahaya dibanding penipuan digital biasa.
Selain meminta transfer uang, pelaku juga kerap mencoba mendapatkan kode OTP, PIN, password, hingga akses akun digital korban. Jika korban memberikan informasi tersebut, pelaku dapat mengambil alih rekening bank, akun media sosial, maupun layanan keuangan digital lainnya.
Tanda-Tanda Penipuan Suara AI yang Harus Diwaspadai
Masyarakat perlu memahami beberapa ciri umum penipuan kloning suara AI agar tidak mudah menjadi korban. Salah satu tanda paling umum adalah panggilan datang dari nomor asing atau nomor yang tidak biasa digunakan oleh orang terdekat.
Baca Juga: MK Tegaskan Pensiunan Tak Lagi Masuk Subjek UU ASN, Gugatan Gaji Pokok Eks Pegawai Kemlu Ditolak
Selain itu, isi percakapan biasanya langsung mengarah pada situasi mendesak dan permintaan tindakan cepat. Pelaku akan berusaha membuat korban tidak sempat berpikir logis dengan terus memberi tekanan selama percakapan berlangsung.
Tanda lain yang perlu diwaspadai adalah permintaan untuk merahasiakan pembicaraan dari keluarga atau orang lain. Pelaku sengaja melakukan hal tersebut agar korban tidak sempat meminta pendapat atau melakukan verifikasi kepada pihak yang sebenarnya.
Pakar keamanan digital menyarankan masyarakat untuk selalu melakukan pengecekan ulang ketika menerima telepon mencurigakan, meskipun suara penelepon terdengar sangat mirip dengan orang yang dikenal. Langkah paling aman adalah memutus sambungan telepon lalu menghubungi langsung nomor resmi atau kontak pribadi yang biasa digunakan orang tersebut.
Masyarakat juga diingatkan untuk tidak pernah memberikan kode OTP, PIN, password, maupun data pribadi melalui telepon. Informasi penting seperti itu tidak seharusnya dibagikan kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku keluarga, teman, atau petugas tertentu.
Peningkatan kasus penipuan digital berbasis AI menunjukkan bahwa literasi keamanan siber menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi. Pengguna internet tidak hanya perlu memahami cara menggunakan teknologi, tetapi juga harus memahami risiko manipulasi digital yang terus berkembang.***
Editor : Dwi Puspitarini