KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Wacana menjadikan Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, sebagai pusat perawatan pesawat Hercules milik Amerika Serikat memunculkan sorotan di parlemen.
Sejumlah pihak mengingatkan agar kerja sama tersebut tidak menimbulkan persoalan pertahanan maupun persepsi soal keberadaan fasilitas militer asing di Indonesia.
Rencana tersebut muncul setelah Kementerian Pertahanan RI membuka peluang kerja sama dengan Amerika Serikat untuk menghadirkan fasilitas maintenance, repair and overhaul (MRO) pesawat C-130/Hercules di kawasan Asia dengan lokasi yang dipertimbangkan berada di Kertajati.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan Brigjen Rico Ricardo Sirait menyebut pemilihan Kertajati didasarkan pada luas lahan serta kesiapan infrastruktur penerbangan yang tersedia.
Kerja sama itu disebut berawal dari tawaran pemerintah Amerika Serikat melalui Menteri Pertahanan mereka, Pete Hegseth. Indonesia dipandang memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat pemeliharaan pesawat angkut militer yang beroperasi di kawasan Asia.
Namun gagasan tersebut tidak lepas dari kritik. Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin meminta pemerintah berhati-hati sebelum mengambil keputusan final.
Menurutnya, kerja sama sektor pertahanan yang melibatkan fasilitas militer asing harus dilaksanakan secara terbuka dan terukur agar tidak menimbulkan persoalan hukum maupun sensitivitas politik.
Ia mengingatkan, apabila fasilitas itu nantinya lebih banyak digunakan untuk mendukung operasi pesawat militer Amerika di kawasan, maka dapat memunculkan anggapan bahwa Indonesia memberi ruang bagi pangkalan militer asing.
“Hal seperti ini harus dicermati dengan serius agar tidak bertentangan dengan aturan nasional serta prinsip politik luar negeri bebas aktif,” tegasnya.
Bandara Megah yang Lama Sepi Aktivitas
Bandara Kertajati sendiri merupakan salah satu proyek strategis nasional yang dibangun pada era Presiden Joko Widodo. Meski resmi dibuka pada 2018, gagasan pembangunan bandara ini sebenarnya sudah muncul sejak awal 2000-an.
Studi kelayakan proyek dilakukan sejak 2003, tetapi realisasinya baru berjalan lebih dari satu dekade kemudian setelah pemerintah pusat mengalokasikan pendanaan melalui APBN.
Bandara yang berdiri di atas lahan sekitar 1.800 hektare itu memiliki landasan pacu sepanjang 3.000 meter dan dirancang melayani pesawat berbadan lebar seperti Boeing 747 hingga Boeing 787.
Secara desain, Kertajati diproyeksikan menjadi gerbang internasional baru di Jawa Barat dengan kapasitas hingga 29 juta penumpang per tahun serta terminal kargo yang mampu menangani jutaan ton barang.
Baca Juga: Mulai 2027, Anak SD Belajar Bahasa Inggris dengan Cara Baru, Bukan Hafalan Lagi
Meski demikian, perjalanan operasionalnya belum berjalan sesuai harapan. Aktivitas penerbangan di Kertajati relatif terbatas dan jumlah penumpangnya masih jauh dari target awal.
Saat ini penerbangan internasional reguler dari Kertajati masih sangat terbatas. Kondisi tersebut membuat bandara kerap menjadi bahan evaluasi karena dinilai belum optimal sejak mulai beroperasi.
Di tengah minimnya trafik penerbangan sipil, munculnya opsi menjadikan Kertajati sebagai pusat perawatan Hercules dipandang sebagai peluang membuka fungsi baru bagi bandara tersebut.
Editor : Uways Alqadrie