KALTIMPOST.ID, Pemerintah Indonesia masih terus mematangkan rencana ekspor listrik ke Singapura. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa proses tersebut saat ini masih tertahan di tahap negosiasi, khususnya terkait penentuan harga dan regulasi.
Bahlil menjelaskan bahwa kerja sama energi ini berakar dari nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani setahun lalu. Kesepakatan tersebut mencakup tiga poin utama: ekspor listrik, pengembangan energi hijau, serta pembangunan infrastruktur penyerapan karbon atau Carbon Capture Storage (CCS).
Meski prosesnya terus berjalan, pemerintah menegaskan pentingnya asas yang saling menguntungkan (win-win solution) bagi kedua negara. Bahlil menilai formula harga yang ada saat ini belum mencapai titik keseimbangan tersebut, meskipun ia optimistis kesepakatan komersial akan segera tercapai dalam waktu dekat.
Peran BPI Danantara dalam Perdagangan Lintas Batas
Di sisi lain, Presiden RI Prabowo Subianto mengumumkan langkah strategis dengan menunjuk Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sebagai pelaksana utama dalam proyek perdagangan listrik lintas batas dengan Singapura. Pengumuman ini disampaikan langsung dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong, di Istana Negara.
Selain bertanggung jawab atas implementasi ekspor listrik, BPI Danantara juga mendapatkan mandat luas dari Presiden Prabowo untuk mengawal kolaborasi di berbagai sektor strategis lainnya, meliputi:
- Sektor energi
- Pengembangan ekonomi dan ekosistem digital
- Penguatan keamanan siber
Melalui penunjukan lembaga ini, Indonesia dan Singapura diharapkan dapat segera merealisasikan capaian-capaian konkret dari berbagai diskusi bilateral yang telah dilakukan.
Editor : Ilmidza