Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Jelang Muktamar NU 2026, Gus Choi Ungkap Tiga Guru Besar yang Dinilai Layak Pimpin PBNU

Uways Alqadrie • Selasa, 14 Juli 2026 | 07:20 WIB
Grafis Kaltim Post
Grafis Kaltim Post

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026, dinamika mengenai figur calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai mengemuka.

 Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) Effendy Choirie atau Gus Choi menilai sejumlah tokoh akademisi memiliki kapasitas memimpin organisasi tersebut.

Menurutnya, terdapat tiga guru besar yang layak dipertimbangkan sebagai calon ketua umum PBNU, yakni Ali Masykur Musa, Masykuri Abdillah, dan Nasaruddin Umar. Ketiganya dinilai memiliki rekam jejak organisasi, pengalaman sebagai aktivis, serta kapasitas intelektual yang memadai untuk memimpin NU.

Baca Juga: Harga BBM Nelayan Kapal 30-200 GT Turun Jadi Rp15.000, Ini Skema Baru Pemerintah

Pandangan tersebut disampaikan Gus Choi usai menghadiri Sarasehan Nasional Nahdlatul Ulama Kesejahteraan Sosial di Jakarta. Ia menegaskan bahwa NU memiliki banyak kader berkualitas sehingga proses pemilihan sebaiknya diserahkan sepenuhnya kepada forum muktamar.

Selain tiga nama tersebut, Gus Choi juga menyebut sejumlah kader lain yang memiliki potensi menjadi pemimpin PBNU. Di antaranya Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzili, Andi Jamaro Dulung, Mujib Rohmat, Endin AJ Soefihara, dan Saifullah Yusuf.

Sementara Idrus Marham juga dinilai memiliki kapasitas, meski saat ini disebut lebih memilih fokus menjalankan tugas di partai politik.

Gus Choi menekankan, penentuan ketua umum tidak ditentukan oleh faktor usia maupun senioritas. Baginya, yang menjadi pertimbangan utama adalah kemampuan memimpin, integritas, pengalaman organisasi, serta dukungan dari para muktamirin sebagai pemegang hak suara.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam struktur organisasi NU terdapat pembagian peran antara Syuriah dan Tanfidziyah. Syuriah berisi para ulama yang menjadi otoritas keagamaan, sedangkan Tanfidziyah dipimpin figur yang memiliki perpaduan kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, dan kemampuan mengelola organisasi.

Di antara sejumlah nama yang disebut, Gus Choi menilai Nasaruddin Umar memiliki keunggulan karena memadukan latar belakang akademisi dengan pengalaman sebagai aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

 Pengalaman tersebut dinilai menjadi bekal penting dalam memahami dinamika organisasi sekaligus memimpin NU menghadapi berbagai tantangan ke depan.

Baca Juga: Bansos PKH dan BPNT Cair Mulai 20 Juli 2026, Kemensos Pastikan Data Penerima Sudah Diperbarui

Ia berharap proses pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 berlangsung sesuai mekanisme organisasi, sehingga menghasilkan pemimpin yang mampu membawa NU terus berkembang dan menjawab kebutuhan umat maupun bangsa.

Editor : Uways Alqadrie
muktamar nu ke 35 bursa ketua umum NU nasaruddin umar Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf